Target Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

 
MALANG - Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang (Unisma) Ahmad Siboy., SH., MH., menjadi calon penerima gelar doktor termuda untuk bidang Hukum Administrasi Negara. Pria 26 tahun tersebut juga menjadi yang terbaik dalam tes calon program doktor ilmu hukum.
“Seingat saya untuk bidang Hukum Administrasi Negara ini tercatat di rekor MURI yang paling muda berumur 29 tahun,” ujarnya.
Boy, begitu dia biasa dipanggil,  menempuh pendidikan S2 di Unisma pada tahun 2009 selama 3.5 tahun dan lulus dengan predikat lulusan terbaik. Tanpa menunggu waktu, dia melanjutkan kuliah S2 di universitas yang sama di tahun 2013 dan lulus 1.5 tahun kemudian. Selanjutnya, dia mengejar gelar doktor di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
“Sebenarnya saya ingin melanjutkan S3 ke luar negeri, tapi terganjal peraturan kalau dosen hanya bisa sekolah ke luar negeri setelah lima tahun mengajar, sedangkan waktu itu saya baru dua tahun,” ujarnya.
Namun, Boy memilih untuk tidak menunggu. Dia mengatakan, tidak tahu sampai kapan akan diberikan umur oleh Tuhan. Ditambah, dia ingin menuntaskan mimpi kedua orang tuanya yang ingin melihatnya lulus dari pendidikan tertinggi.
“Dulu saya pernah dibully oleh kakak tingkat saya. Namun kemudian saya punya filosofi kalau orang sukses itu bukan yang melakukan start lebih dulu, tapi yang finish duluan. Pada akhirnya saya membuktikannya,” ujarnya.
Selain hobi sekolah, Boy juga hobi menulis. Dari mahasisiwa hingga kini, dia telah menerbitkan tujuh buah buku seputar Hukum, Sosial, maupun mahasiwa. Dan kini, di laptopnya telah terisi tiga buah buku yang menunggu untuk diterbitkan selepas Boy menerima gelar doktornya.
“Saya ingin menjadi pribadi yang bermakna untuk banyak orang, yakni dengan menulis. Karena saat kita sudha meninggal, tulisan kita mempunya umur lebih panjang dari kita,” katanya.
Saat ini, Boy sedang disibukkan dengan penulisan disertasinya dengan topic penyelesaian hasil pemilihan kepala daerah.
“Sekarang disertasi saya baru 450 halaman. Batasnya sih 300 halaman, tapi saya ingin menulis sampai 600 halaman. Terlebih di UB itu untuk ujian doktornya sangat ketat, salah satunya lewat cek plagiasi yang sepertinya menjadi yang terkejam di seluruh Indonesia dengan batas toleransi hanya lima persen,” kata pria kelahiran Sumenep, 4 Mei 1991 ini.
Dosen yang juga mengajar di Polinema ini mengaku masih ingin mengikuti studi ke Universitas Leiden atau universitas Utrecth di Belanda.
“Karena Indonesia pernah dijajah Belanda jadi kiblatnya hukum Indonedia itu ada di sana. Jadi saya harus belajar pada sumber hukum Indonesia,” katanya. (ras/oci)

Berita Lainnya :