Semangat Paperless, 17 Unit Komputer Digunakan 403 Siswa


 
MALANG - SDN Lowokwaru 2 melaunching model ujian berbasis online, kemarin. Ujicoba ini dilakukan saat kegiatan penilaian tengah semester (PTS) dan diikuti siswa kelas 3 sampai 6. Ujian yang diberlakukan online kali pertama adalah mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Ujian dengan sistem online sudah biasa dilakukan bagi siswa jenjang SMP dan SMA. Tapi, bagi siswa SD, hal ini menjadi pengalaman baru. Seperti yang dialami ratusan siswa SDN Lowokwaru 2, kemarin.
Menggunakan 20 unit komputer milik sekolah, para siswa terlihat serius menatap monitor. Meski baru kali pertama, mereka terlihat antusias dan semangat meski ada yang masih grogi.
Terdapat 20 komputer di sekolah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk ujian PTS. Namun, hanya 17 unit yang bisa dipakai untuk ujian, sedang yang tiga unit masih kondisi dalam perbaikan. 
"Jadi siswa bergantian memakainya, karena itu diadakan lebih lama. Sebab, untuk kelas 3 sampai kelas 6 ada 403 siswa,” urainya. 
Kepala SDN Lowokwaru 2 Tjatur Supri Handoko, M.Pd mengatakan, ujian berbasis online ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, karena, ujian berbasis online nantinya akan memberikan banyak manfaat kepada siswanya. Apalagi siswanya yang sudah duduk di tingkat atas. Mereka harus mendapatkan pengalaman yang bermanfaat ketika memasuki jenjang berikutnya. 
“Jadi kami ingin memberikan mereka pembiasaan. Karena saya rasa ujian berbasis online sangat menguntungkan siswa, terlebih nanti ketika mereka masuk SMP,” kata Tjandra.
Tak hanya itu, ujian online juga bermanfaat membuat siswa terbiasa dengan IT. Yang lebih penting lagi, mereka juga bisa mengikuti ujian dengan lebih jujur karena kemungkinan saling contek menjadi sangat kecil. 
Sementara pemilihan mapel TIK, menurut dia karena mata pelajaran tersebut penting, yang bukan saja dipelajari setiap minggunya. Namun juga perlu untuk dipraktikkan. 
“Masih Mapel TIK saja yang diujikan online, sebab Mapel lain tematik. Jadi masih belum bisa dilaksanakan," jelasnya.  
Menurut dia, yang dilakukan ini sebagai inovasi dari sekolah Adiwiyata. Dari program ini, sekolah bisa menghemat pengunaan kertas mencapi 30 persen dari biasanya. Kalau biasanya ujian harus menggunakan kertas, maka sekarang cukup online dengan komputer tersebut.
“Paperless inilah yang menurut kami bisa wujudkan Adiwiyata dan untuk aplikasi Go Green,” terangnya.
SDN Lowokwaru 2 memang memiliki komitmen menjadi sekolah Adiwiyata. Selain melakukan terobosan ujian online, program Adiwiyata lainnya juga dilaksanakan. Sekolah memanfaatkan limbah kertas untuk pembuatan topeng Malangan.
Misalkan dari koran dan kertas bekas yang sudah tidak lagi terpakai. Topeng-topeng itu kemudian dipasang di kelas-kelas sebagai hiasan. Topeng yang dibuat dikreasikan sendiri oleh siswa sehingga merangsang ide kreatif mereka. 
“Program ini kami masukkan dalam mata pelajaran seni budaya,” pungkasnya. (sinta/oci)

Berita Lainnya :