FK UB Tingkatkan Reputasi Bidang Riset



MALANG – Dalam rangka meningkatkan bidang penelitiannya, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menggelar expo dan talkshow riset untuk pertama kalinya. Kegiatan ini sebagai bentuk motivasi kepada civitas akademi FK UB agar lebih peduli pada bidang penelitian. Sehingga ke depan dapat meningkatkan reputasi dalam bidang publikasi FK UB.
“Kami ingin mengembangkan jejaring lebih luas dalam bidang peminatan, sehingga pengunjung bisa termotivasi, terinspirasi dan mendaftar dalam kaitan dengan penelitiannya,” ujar Ketua Penyelenggara acara, Ns. Heri Kristianto, S.Kep, M.Kep, Sp.KMB
Berlangsung selama dua hari hingga Minggu (8/10) hari ini, expo menghadirkan 15 bidang penelitian di FK UB. Di antaranya Keperawatan, Farmasi, Kebidanan, Sosial Kesehatan Masyarakat, Gizi, dan masih banyak lagi.
Salah satu booth bidang penelitian yakni dari Pusat Kajian Penyakit Lupus dan Aura (Autoimun, rematik, dan alergi). Penelitian ini masuk dalam program Ilmu Penyakit Dalam yang diampu oleh Prof. Dr. dr. Kusworini, M.Kes, Sp. PK. dan prof. Dr. dr. Handono Kalim, Sp. PD-KR.
Dituturkan oleh dr. Fitria Ummu Habibah, research assistant dari FK UB, lupus merupakan penyakit yang saat ini masih memerlukan biaya mahal untuk diagnosanya. Untuk itu, saat ini dia dan tim sedang mengerjakan sebuah proyek penelitian kit sederhana untuk deteksi Lupus .
“Sekarang ini deteksi Lupus baru bisa dikerjakan di rumah sakit tipe B atau tipe A. Dan penelitian kami yang sedang berjalan ini yaitu membuat suatu alat deteksi semurah testpack, jadi bisa dilakukan di puskesmas,” ujar Fitri.
Padahal, satu dari sembilan perempuan di dunia memiliki risiko terkena penyakit ini. Terlebih berdasarkan kondisi di lapangan, banyak pasien baru terdeteksi ketika sudah mencapai stadium parah.
“Kalau Lupus sudah parah, maka dapat menyebabkan peradangan di berbagai organ, dan diperparah lagi dengan rusaknya ginjal. Dan saat ini, obat untuk penyakit ini belum ada jadi yang bisa dilakukan yakni dengan pengontrolnya,” sambungnya.
Sementara itu, tim pusat kajian Emergency FK UB berkolaborasi dalam Public Service Center (PSC) 119 Kota Malang dalam bidang pendidikan dan riset untuk penanganan darurat sebelum pasien sampai ke rumah sakit. Bila dulunya ambulans berbasis rumah sakit, maka kini ambulans berbasis komunitas.
“Kalau dari rumah sakit tentu ada tenaga medis yang bisa menangani yakni dokter, atau perawatnya, namun bila  berbasis komunitas maka harus dilatih menjadi orang awam terlatih untuk menangani korban sebelum sampai di rumah sakit,” kata dr. Aurick Yudha, Sp., EM, Dokter Emergency FK UB. (ras/van)

Berita Lainnya :