Mahasiswa Harus Jadi Agen Budaya



MALANG – Selain sebagai bagian dari komunitas akademik yang kritis dan logis, mahasiswa menjadi bagian dari komunitas intelektual di masyarakat. Tak hanya menguasai bidang  akademik, namun mereka harus memahami perkembangan sosial. Untuk itu, mereka memiliki peran dalam perubahan sosial.
Hal tersebut disampaikan Manuel Kaisiepo, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pada Kabinet Gotong Royong (Kabinet Pemerintahan Megawati Soekarnoputri saat menjabat Presiden RI).
Ia mengatakan hal tersebut dalam seminar nasional bertajuk ‘Mahasiswa Sebagai Duta Budaya untuk Mewarnai Kebhinekaan Indonesia’ yang digelar di Universitas Wisnuwardhana, Sabtu (7/10) kemarin.
“Untuk itu, mereka pun juga harus memahami konteks sosial, realitas sosial, konteks budaya dan realitas budaya di tempatnya berasal, baru kemudian dapat memahami dengan baik budaya di tempatnya berkuliah,” ujarnya.
Manuel mengatakan, setiap etnis memiliki kesempatan yang sama dalam akademik dan ekonomi. Saat dirinya menjabat sebagai Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, ada ketimpangan yang sangat nyata dalam pembangunan wilayah. Gejolak yang sempat terjadi, dikarenakan adanya ketidakpuasan pada pembangunan, tidak semata-mata karena ingin mengancam integritas bangsa.
“Oleh karena itu, mahasiswa putra daerah ketika datang untuk kuliah maka harus dapat bersosialisasi dengan masyarakat kampus, dan ketika sudah lulus kembali sebagai putra daerah memajukan daerahnya,” ujarnya.
Sementara itu, dituturkan oleh Andika Yudhatama, M.Sc, dosen Unidha, perguruan tingi memiliki peran penting dalam merawat kebhinekaan. Terlebih, Unidha sebagai miniatur  Indonesia dengan masyarakat yang terdiri dari berbagai budaya di Indonesia.
Permasalahan antara mahasiswa dengan masyarakat sekitar kampus yang ditandai dengan kasus bentrokan antar keduanya, bisa disebabkan karena lemahnya masyarakat dalam menerima budaya asing. Di sisi alin, mahasiswa pendatang juga kurang adaptasi yang baik. Untuk mengurangi kesenjangan antar keduanya, Andika mengutarakan dua solusi.
“Bisa melalui pendekatan berbasis kegiatan. Mahasiswa yang masih muda dan kuat harus dilakukan penyaluran energi. Bila aktivitas di kampus lesu, maka akan disalurkan ke luar,” ujarnya.
Selain itu juga dapat melalui pedekatan berbasis nilai. Salah satunya kegiatan pengabdian masyarakat.
“Pengabdian masyarakat tidak hanya dilakukan mahasiswa di akhir masa studi, tapi bisa diawali pada masa-masa pertama kuliah,” imbuhnya. (ras/van)

Berita Lainnya :

loading...