Beda Pendapat Hal Biasa dalam Komunikasi

 
MALANG – Komunikasi telah ada dalam diri manusia sepersekian detik setelah dilahirkan, namun dalam bahasa yang berbeda. Pada bayi yang baru lahir, misalnya, memiliki arti komunikasi yang berbeda tergantung yang menafsirkannya.
“Dokter ahli kebidanan menyatakan tangisan pertama bayi itu mengucapkan ‘terima kasih dokter’, dokter akhli fisika membahasakan tangisan mereka sebagai protes bayi karena mata mereka sakit begitu menerima cahaya yang banyak di bumi,” ujar Bapak Ilmu Komunikasi Indonesia Prof. M. Alwi Dahlan dalam Studium Generale Seminar Proposal Tesis Program Magister Ilmu Komunikasi bertajuk Retropeksi Ilmu Komunikasi: Sebuah Peluang dan Tantangan Membumikan Ilmu Komunikasi di Indonesia.
Menteri Penerangan dalam Kabinet Pembangunan VII ini mengatakan, semua ahli memiliki penafsiran yang berbeda dalam komunikasi sebagai bagian kehidupan. Namun, menurutnya Tuhan memberikan komunikasi dalam setiap nafas walaupun beberapa tidak mengeluarkan suara.
Menurutnya, komunikasi menghubungkan data dengan informasi pada tempat tertentu, dan waktu tertentu. Diceritakan Alwi, ketika dirinya berada di suatu tempat, maka ponselnya telah menunjukkan lokasi keberadaannya dengan akurat.
“Padahal saya nggak ngasih tahu google dan peralatannya google tidak ada di sini. Artinya, persoalan komunikasi tidak lagi pada membumikan komunikasi tapi sudah ada keterkaitannya dengan seluruh dunia, dan menjadi bagian penting dari bumi,” ujarnya.
Ilmu komunikasi, lanjutnya, muncul pada Perang Dunia II dan dipelajari untuk memahami mengapa warga sipil bersedia berangkat perang dan berkorban. 
“Selanjutnya, orang-orang komunikasi setiap hari belajar dengan mendengarkan pidato Hitler. Dari situlah kemudian muncul content analysis dan timeline pada saat kapankah Hitler mulai takut, yang dicermati dari pidatonya,” ujarnya.  
Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP UB,  Rachmat Kriyantono, Ph.D, mengatakan, semi seminar ini sebagai upaya program studi untuk membantu menfasilitasi mahasiswa agar cepat lulus dan meningkatkan konsentrasi dalam mebuat proposal. Kehadiran Alwi, dianggap menjadi pematik semangat menggali kelimuan.
“Terlebih, Prof. Alwi ini belajar langsung dari suatu negara di mana ilmu komunikasi dilahirkan, giat pendiri beberapa organisasi profesi dan aktif membantu mendirikan Perhumas,” ujarnya. (ras/oci)

Berita Lainnya :