Polinema Targetkan 90 Persen Lulusan Langsung Kerja


 
MALANG – Sebagai Direktur Baru Polinema, Drs Awan Setiawan MM memiliki tantangan untuk menaikkan angka jumlah mahasiswa Polinema yang telah diterima bekerja menjadi 90 persen, setelah sebelumnya berada di angka 70 persen.
“Tapi untuk di atas 90 persen sepertinya tidak mungkin karena ada mereka yang melanjutkan studi atau menjadi wirausaha. Kami berusaha menjembatani mereka dengan industri dengan job fair tiga sampai empat kali setahun,” ujarnya seusai acara Pisah Sambut Direktur Politeknik Negeri Malang, Senin (9/10).
Pada saat pelantikan dirinya beberapa waktu yang lalu oleh Menristek Dikti, Polinema ditekankan untuk menjalin kerjasama dengan industri. Di tahun 2019 nanti, sebanyak 50 persen dari segi jumlah dosen berasal dari kalangan industri.
Jumlah tersebut menurut Awan sedikit sulit untuk dipenuhi. Namun, masih bisa dilakukan melalui kuliah tamu maupun kontribusi alumni. Selain itu, juga ditekankan pentingnya pabrik di Politeknik.
“Bukan pabrik besar, tapi hanya untuk praktikum mahasiswa. Di Polinema, bentuknya adalah teaching factory. Di jurusan Kimia sudah ada teaching factory makanan, minuman, dan keripik kerjasama dengan perusahaan,” sambungnya.
Dalam bidang penulisan, ke depan Polinema ditarget mengeluarkan 60 jurnal penelitian setelah sebelumnya mengluarkan 40 jurnal bereputasi tahun ini. Bila sebelummya dana penelitian sebesar 5 M, maka akan ditambah menjadi 6 M.
“Kalau satu perguruan tinggi bisa menerbitkan 40 jurnal sedangkan Indonesia punya lebih dari 4.000 perguruan tinggi, maka tentu jumlahnya akan melesat melebihi jurnal dari negara-negara lainnya,” ujar Dr. Ir. Tundung Subali Patma, MT., mantan Direktur Polinema yang digantikan oleh Awan.
Pasca tidak lagi menjabat sebagai Direktur (Polinema, Tundung akan menjadi dosen Managemen. Seabrek kegiatan pun telah menantinya, yakni menjadi Ketua Umum Persatuan Olahraga Sepatu Roda Indonesia (Perserosi) sekaligus ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Malang Raya.
“Saya masih tujuh tahun lagi pensiunnya. Untuk ADI, kegiatannya sedang berfokus pada koordinir dosen agar mereka bisa dengan mudah tahu bagaimana caranya menjadi guru besar,”ujar Tundung. (ras/oci)

Berita Lainnya :