magista scarpe da calcio Siswa Makin Religius, Ada Jam Khusus Belajar Seni Baca Alquran


Siswa Makin Religius, Ada Jam Khusus Belajar Seni Baca Alquran


SEKOLAH negeri di Kota Malang memiliki program-program menarik dalam rangka membeli anak didiknya dengan karakter keagamaan. Meski bukan sekolah Islam, tak sedikit sekolah negeri yang kini menambahkan jam khusus untuk memelajari Alquran. Salah satunya di SDN Tanjungrejo 5.
Seni tartil Alquran awalnya adalah kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan oleh SDN Tanjungrejo 5. Setiap hari Senin, siswa kelas IV di sekolah tersebut mendapatkan pelajaran Seni Tartil Alquran. Selanjutnya, kegiatan ini dimasukkan ke dalam jam pelajaran intra. Sebab, kesenian ini adalah kegiatan yang paling dianggap inti.
Kepala SDN Tanjungrejo 5 Drs Sunyata MM mengatakan, Seni Tartil Alquran ini adalah upaya untuk menumbuh kembangkan syi’ar-syi’ar Islam bagi siswa. Utamanya adalah untuk menumbuhkan karakter religius.
“Sejak adanya Program Pendidikan Karakter (PPK), memang kami taruh ekstrakurikuler Alquran dipelajaran intra, karena ini juga sebagai upaya untuk menumbuhkan karakter religius,” paparnya.
Uniknya, walaupun ekstrakurikuler, tapi seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Sehingga semua anak belajar seni baca Alquran dalam kegiatan di luar kelas.
“Dahulunya kegiatan ini memang kegiatan ekstrakurikuler. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, karena ada PPK yang ternyata juga menekankan pada karakter religius, kami memindahkannya di jam intra sekolah,” ujar Sunyata.
Menurutnya, kegiatan ekstrakulikluler ini perlu dikembangkan, tartil Al-quran semacam ini sangatlah perlu diadakan, utamanya buat anak-anak tingkat Sekolah Dasar yang masih perlu penggodokan dan bimbingan untuk pembentukan karakter yang baik. Sebab, lanjutnya, Alquran adalah sumber dari segala ilmu, baik ilmu pengetahuan umum ataupun ilmu pengetahuan agama.
Suyanta mengatakan, mempelajari Alquran tidaklah mudah. Mereka diajarkan cara membaca yang benar dan tepat dengan tajwid yang benar juga Fashohah atau kefasehan.
Selain itu, lanjutnya, siswa juga diajarkan dalam membaca Alquran sesuai dengan makhorijul hurufnya (tempat keluarnya huruf didalam kerongkongan), sehingga harapannya mereka bisa membaca Alquran dengan fasih.
“Kalau masih usia anak Sekolah Dasar sangatlah mudah untuk dibimbing dan belajar membaca Alquran karena lidahnya masih lentur, lain halnya kalau sudah dewasa apalagi sudah lanjut usia sangatlah sulit untuk belajar membaca Alquran apalagi dengan tajwid dan kefasehannya juga, karena lidahnya sudah agak kaku,” katanya.
Suyanta mengatakan, tartil memang belum pernah dilombakan sebelumnya. Baginya, seni membaca Alquran tidak penting dilombakan, yang terpenting adalah amalan yang dilakukan siswanya.
“Memang kami belum pernah juara, tapi amalan mereka ketika di dalam kelas bisa tartil Alquran saja saya sudah sangat senang dan bangga dengan mereka,” pungkasnya. (sin/oci)

Berita Lainnya :