Bahasa Indonesia Kurang Diminati di Australia dan Eropa

 
MALANG – Peminat bahasa Indonesia dari  pelajar asing cenderung menurun. Tren ini umum terjadi pada berbagai universitas di Australia dan Eropa. Namun, jumlahnya jutru meningkat dari pelajar di negara ASEAN. Hal tersebut disampaikan oleh Erlin Susanti Barnard Ph.D, koordinator Pedagogi Budaya dan Bahasa Asia di Universitas Winconsin, Madison, Amerika Serikat seusai memberikan materi dalam Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia dan Bagi Penutur Asing, (KIP-BIPA).
“Ini ada kaitannya dengan keadaan ekonomi dan sosial, salah satunya pada kerusuhan yang sempat terjadi di Indonesia pada 1998 lalu, dimana mahasiswa asing dalam program musim panas yang rencananya akan datang ke Indonesia, harus dialihkan ke Malaysia,” ujarnya.
Di tahun 1980 hingga 1990, saat dirinya mengajar di University of Hawaii, jumlah murid dalam satu kelas pengajaran bahasa Indonesia bisa mencapai 18 orang. Sekarang, bahasa Indonesia  menjadi bahasa minor dan kalah bersaing dengan berbagai bahasa asing seperti Jerman, Spanyol, atau Italia.
Padahal, lanjutnya, belajar bahasa Indonesia tidak sesulit bahasa asing lainnya karena tidak ada intonasi, menggunakan huruf latin biasa serta tata bahasa yang tidak sulit, seperti tense dalam bahasa Inggris, misalnya. Di luar negeri, bahasa Indonesia dipelajari untuk belajar bidang studi lain yang ada di Indonesia, misalnya antropologi, sosiologi, dan ilmu politik.
“Dalam bidang budaya misalnya, digunakan untuk mempelajari studi lanjut mengenai tanah toraja, tradisi Indonesia, dan orang utan yang ada di Kalimantan,” sambungnya.
Di Amerika Serikat sendiri terdapat 12 universitas yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa pilihan. Pengajaran bahasa Indonesia di sana masuk dalam sistem kredit dan kurikulum, dengan pengajar tetap yang berpengalaman.
“Tapi, banyak pula universitas yang menerapkan bahasa Indonesia namun dengan sistem tutor atau kursus pendek dan difasilitasi oleh pemerintah. Jumlah siswa dalam satu kelas pun juga relatif kecil,” sambungnya.
Pengajaran Bahasa Indonesia di kalangan pemerintah Amerika Serikat juga dilakukan di kalangan militer, pemerintahan, dan departemen luar negeri. Khususnya, sebagai salah satu pembinaan diplomat yang akan dikirim bertugas di Indonesia, dengan meminta kurikulum darinya.Untuk menjadi seorang guru BIPA, lanjutnya, memiliki kualifikasi minimal lulusan S2 dari latar belakang pendidikan apapun, namun mengikuti berbagai pelatihan untuk pendalaman pengajaran bahasa Indonesia. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...