X-Factor, Deteksi Vaksin Palsu dalam Satu Menit



MALANG - Mendeteksi vaksin palsu tidaklah mudah. Butuh waktu dan tahapan. Setidaknya, harus ada ujia laboratorium. Namun, lima mahasiswa Universitas Brawijaya ini mencoba memangkas proses itu melalui X-Factor, alat pendeteksi vaksin palsu dalam hitungan menit.
Mereka adalah Oktivia Ditasari, Apri Dwi Megawati, Audina Vidya Restanty, Achmad Syafi’udin dan Muhammad Fatahilla. Deteksi vaksin palsu, menurut sang ketua tim Oktivia,  tidak bisa dilakukan dengan kasat mata, sehingga harus melalui uji laboratorium.
Selain itu, prosedurnya juga lama dan hanya bisa dilakukan oleh ahli kesehatan tertentu. Padahal, lanjutnya, masyarakat seringkali membutuhkan hasil cepat ketika akan melakukan vaksinasi untuk buah hati.
Melalui kerja keras berbulan-bulan tim ini, terciptalah X-Factor atau Extra Fast Fake Vaccine Detector, yang mampu mendeteksi vaksin palsu hanya dengan waktu proses selama satu menit saja. Oktiv menjelaskan, alat deteksi portable ini menggunakan dasar kromatografi atau pemisahan suatu zat dengan prinsip perbedaan sifat fisik zat tersebut.
Ditambah dengan metode sentrifugal, agar pemisahan zat berlangsung dengan cepat. Kemudian, disinari dengan sinar UV dan deteksi warna menggunakan color detector, yang menghasilkan perbedaan data Red Green Blue (RGB) antara vaksin asli dan vaksin palsu.
“Antara vaksin asli dan palsu memang tidak bisa dibedakan dengan kasat mata, namun bisa dilihat dari perbedaan sebaran warna RGB-nya. Selain mendeteksi palsu dan tidaknya, kami juga membuat standart RGB dari vaksin asli,” imbuh mahasiswa jurusan Kimia angkatan 2014 ini.
Ini dikarenakan, vaksin asli memiliki kekentalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan vaksin palsu yang telah mengalami proses pengenceran dengan akuades. X-Factor telah digunakan untuk menguji vaksin unggas dan vaksin anak. Pada vaksin anak, jenis yang dipilih yakni Polio bOVP dan campak.
Sementara, vaksin unggas yang dipilih yaitu C.R.D dan ND-IB. Sejauh ini, lanjut Oktiv, berdasarkan data paten yang terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HKI), belum ada alat yang mampu untuk mendeteksi vaksin palsu seperti besutan timnya.
“Pada saat diundang untuk tampil di Kick Andy beberapa waktu lalu, sekjen Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. Pimprim Basarah Yanuarso, mengatakan kalau alat bisa bisa digunakan untuk deteksi awal kesalahan vaksin, sebelum uji lanjut di laboratorium,” sambungnya.
Selain cepat, X-Factor juga mudah dibawa kemana-mana sehingga diharapkan bila nantinya dapat diproduksi secara massal, X-Factor akan tersedia di instansi penyediaan obat dan vaksin, rumah vaksinasi serta dokter anak.
Tak hanya menjadi salah satu penyumbang medali emas di PIMNAS untuk Universitas Brawijaya, namun tim mereka terpilih menjadi peserta dalam acara India Innovation Forum (IIF) di India.
Meski telah diuji coba, namun tim mereka akan terus mengembangan X-Factor tidak hanya pada parameter deteksinya saja, namun pada inovasi lain, salah satunya yakni jenis vaksin yang dapat diuji. (ras/han)

Berita Lainnya :