Usung Semangat Reborn to be a Leader


MALANG - Tangis haru sekaligus bangga pewarnai pelaksanaan Parents Day 'Reborn to be a Leader'  SMAN TARUNA NALA Jawa timur pada Sabtu, kemarin. (14/10). Bagaimana tidak, setelah melalui masa basis selama tiga bulan, akhirnya siswa kelas X dapat bertemu kembali dengan orang tua mereka. Tak hanya orang tua, tak sedikit siswa yang menahan tangis saat membawakan berbagai penampilan.
Selama menjalani masa basis tiga bulan yang merupakan perpaduan dengan program angkatan laut, seluruh siswa kelas X mendapatkan berbagai kegiatan sesuai dengan visi sekolah. Yakni mengembangkan kecerdasan otak, fisik yang sehat, gerakan yang terampil serta kemampuan yang menjadikan mereka siap membela negara. Dua minggu sebelum Parents Day berlangsung, diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan selama tiga hari di Purboyo dan di tepi laut Ngantep, serta pemakaian baret secara simbolis.
"Selama tiga bulan ini memang tidak memperbolehkan siswa berkomunikasi dengan orang tua untuk meletakkan dasar agar mereka kuat mental, tangguh dan mandiri," ujar Kepala SMANTARNALA Jatim Drs Tri Suharno, M.Pd.
Seuai acara Parents Day kemarin, siswa diberi kesempatan keluar asrama untuk melepas rindu dengan keluarga mereka, dan harus kembali ke asrama paling lambat Minggu (15/10) pukul 21.00 WIB.
Selama menempuh pendidikan, siswa SMANTARA NALA hanya boleh diperkenankan pulang ke rumah selama tiga kali setahun, yakni pada saat Hari Raya Idul Fitri, Libur Semester Genap dan Libur Semester Ganjil. Di akhir minggu, mereka boleh keluar asrama hanya dengan persyaratan tertentu, untuk membeli perlengkapan, misalnya.
Sebagai pendidik, pengasuh, dan pembina di SMANTARNALA merupakan kolaborasi unsur guru dan Lembaga Penyedia Tenaga Angkatan Laut (LAPETAL). Namun, juga dibutuhkan peran orang tua serta masyarakat untuk menjadikan siswa sebagai pemimpin yang religius, karakter, cerdas, tangguh dan terampil.
Dalam kesempatan tersebut, Tri juga melaporkan perkembangan akademik siswa yang meski dalam tiga bulan pemetaan akademik ini belum sepenuhnya cukup, namun telah nampak potensi akademik siswanya. Dari enam kelas, sedianya sebanyak empat kelas untuk siswa MIPA sedangkan dua kelas untuk siswa IPS.
"Namun dilihat dari kompetensinya, hanya ada satu kelas IPS. Itupun ada beberapa siswa yang benar-benar ingin di kelas MIPA. Sebagai jalan tengah, selama sepuluh bulan siswa tersebut berada di MIPA, dan kalau tidak bisa akan dikembalikan ke IPS. Ini fair karena mereka diberikan kesempatan dulu," ujarnya.
Kepala Lapetal Kolonel Laut (S) Gatot Hariyanto mengapresiasi siswa SMANTARNALA yang hanya cukup waktu selama tiga bulan untuk mampu menguasai dan mendewasakan diri.
"Yang paling hebat, mereka sudah sangat berubah dengan memiliki jiwa gentle, karakter luar biasa, dan rasa kekompakan yang tinggi,” ujarnya dalam sambutan kemarin.
Gatot juga menyampaikan pembaretan merupakan simbol dan kehormatan bagi taruna yang memerlukan perjuangan untuk didapatkan. Pelaksanaan dilakukan di laut sebagai cerminan diri dan tempat perjuangan.
"Banyak pemuda di luar sana yang bergaul dengan cara yang salah. Maka orang tua harus harus bersyukur putri-putrinya bisa diterima di sini, dari 600 pendaftar, hanya 180 yang diterima. Padahal belum dilakukan sosialisasi. Bapak ibu bisa percaya dengan kami, karena kami memberikan ilmu yang terhormat," imbuhnya.
Pembinaan tanpa kekerasan, namun tegas dan disiplin membentuk siswa yang hanya dalam waktu tiga bulan telah menguasai berbagai ketrampilan, diantaranya baris berbaris, karate, kolone tongkat, bela diri, dan menari. Padahal, latihan hanya dapat dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Dra. Ety Prawesti, M. Si juga memberikan pujian pada perjuangan siswa selama tiga bulan terakhir, yang menurutnya tidak bisa dilewati oleh semua orang. Ety berpesan pada siswa bahwa modal utama untuk meraih cita-cita ada pada diri mereka sendiri.
"Jangan sampai terpengaruh oleh ponsel, internet negatif, karena yang akan rugi adalah diri kalian sendiri. Harus kuatkan diri dan iman dari hal-hal yang buruk, karena banyak pengaruh negatif yang muncul, bahkan dari satu ponsel saja," ujarnya.
acara Parents Day juga dimeriahkan oleh penampilan seluruh siswa kelas X membawakan tiga buah lagu, yakni Mars SMANTARNALA, Proud of You, dan Doa Seorang Anak. Tak sedikit dari mereka menyanyi sambil menahan tangis. Bahkan saat barisan siswa naik ke atas panggung, panitia harus membuat pagar betis untuk mencegah orang tua menyeruak ke barisan. Di tengah acara, juga diputar video persembahan siswa yang bercerita tentang perjuangan menukar masa putih abu-abu dengan pendidikan yang penuh dengan disiplin dan jauh dari orang tua, menyiapkan diri sebagai pemimpin masa depan. (ras/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :