PTN Malang Butuh Ratusan Profesor


MALANG – Perguruan tinggi di Malang membutuhkan ratusan profesor (guru besar). Menurut Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Mochammad Bisri, MS, idealnya PTN memiliki guru besar minimal 20 persen dari total dosen. Kenyataannya, tiga PTN di Malang masih jauh dari kondisi ideal itu.
 UB yang merupakan PTN berperingkat 5 besar nasional dan 300 besar Asia dan saat ini memiliki 234 profesor. Menurut Bisri, masih ada 200 guru besar lagi yang harus dikejar.
"Idealnya, UB minimal harus memiliki 400 profesor. Tapi kita jangan ambil yang minimalis lah, jadi ditargetkan harus ada penambahan 200 guru besar lagi dari jumlah sekarang 234,” ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, UB gencar melakukan percepatan guru besar pada dosen yang memenuhi syarat untuk diajukan menjadi guru besar. Bisri juga sudah menyediakan anggaran dana khusus untuk penelitian. Hal itu ia lakukan untuk mendorong semangat para doktor dalam mengejar gelar guru besar.
"Dosen yang hampir memenuhi syarat kami kumpulkan semua. Kemudian diseleksi. Sudah ada 80 dosen yang hampir memenuhi syarat, tapi yang mendekati hanya 20 orang," tuturnya.
Bisri menerangkan, 20 orang tersebut memiliki angka kredit kumulatif (KUM) mendekati 850 yang merupakan syarat untuk pengajuan menjadi guru besar. "Lalu dilihat kurangnya di bagian apa. Jika publikasinya yang kurang, akan diberi dana untuk mempercepat publikasi," ujarnya.
Ia juga meminta dekan di setiap fakultas untuk mendorong para dosen yang potensial untuk mengajukan syarat guru besar. "Pihak keadministrasian dan wakil rektor bidang akademik akan terus memantau dan dibantu kekurangannya," lanjut Bisri.
Ia menargetkan, tahun ini UB dapat mengukuhkan 10 guru besar, yang sudah tercapai dengan pengukuhan guru besar ke 233 dan 234 beberapa hari lalu. "Target tahun depan mengukuhkan 20 guru besar supaya bisa cepat tercapai jumlah idealnya," tutup Bisri.
Dua PTN lain di Kota Malang juga belum memenuhi persyaratan ideal jumlah guru besar. UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang masih mempunyai tujuh guru besar, dari jumlah dosen sebanyak  516. Itu berarti, masih kurang sekitar 45 guru besar.
Rektor UIN Maliki, Prof Abdul Haris M.Ag mengatakan, kekurangannya akan segera dikejar, dengan melakukan percepatan guru besar. Sistem percepatan yang dilakukan adalah dengan terus menekan dan memantau para doktor agar segera mengajukan persyaratan dan ketentuan untuk mendapatkan gelar profesor.
“Target tahun ini menambah minimal lima guru besar. Tahun depan menambah 10 guru besar,” kata dia.
Walau menurutnya itu tidak mudah, namun bagi dia tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Harus terus dimotivasi. Saya akan terus memberikan suntikan motivasi kepada para dosen,” kata dia dengan penuh semangat. Haris mengatakan, ia akan terus menyampaikan hal itu (motivasi menjadi guru besar, red) di setiap event atau kesempatan bertemu dengan dosen.
Sementara UM yang mempunyai 998 dosen, saat ini memiliki 82 guru besar. Itu berarti kekurangan guru besar di UM paling sedikit dibandingkan dua PTN lainnya, yaitu 20 guru besar.  UM mempunyai 350 doktor yang berpotensi untuk menjadi guru besar.
Rektor UM Prof Dr Rofi’uddin,M.Pd menargetkan tahun ini menambah lima guru besar, dan tahun depan lima guru besar. Rofi mengatakan, Kebijakan rektor mewajibkan setiap dosen untuk melakukan satu publikasi ilmiah setiap bulan.
“Memang tidak mudah mendorong para doktor untuk segera mengajukan syarat guru besar. Tapi kami harus berupaya semaksimal mungkin,” pungkasnya. (sin/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :