magista scarpe da calcio Industri dan Peneliti Masih Jalan Sendiri-Sendiri


Industri dan Peneliti Masih Jalan Sendiri-Sendiri

 
MALANG – Berbagai  macam seminar ilmu teknologi dan rekayasa yang dilakukan oleh banyak perguruan tinggi, diharapkan tidak hanya sebagai ritual yang berhenti setelah terjadi, namun harus action yang menyertainya. Tidak boleh cukup pada riset dan publikasi, namun harus ada pertemuan lebih lanjut dengan indutri.
“Ketika ada industri yang mau ikut, maka akan ada penyaluran dari akademik. Apa yang dibutuhkan industri, bisa terpenuhi oleh pendidikan sehingga keduanya bisa bekerja sama,” ujar Prof. Dr. Erry Yulian T. Adesta, Acting Dean Fakultas Teknik International Islamic University Malaysia dalam Seminar NAsional Gabungan Bidang Rekayasa yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Malang, kemarin (19/10).
Pertemuan antara peneliti dengan pihak industri memang harus dilakukan sejak lama, namun agar tak hanya dilakukan dalam bentuk sporadios, maka harus diikat dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan. Industri, menurutnya, harus diikat mutlak memiliki suatu kinerja dengan peneliti.Interaksi antar keduanya diharapkan dapat menghilangkan pengkotak-kotakan ilmu berdasarkan bidangnya, dan berakibat pada jarangnya memberikan solusi pada kebutuhan.
“Ketika industri ingin menjawab kebutuhan konsumen, maka dia harus mengikuti apa yang dibutuhkan masyarakat, misalnya masalah energy terbarukan, urban car, dan lainnya. Kalau tidak dikomunikasikan dengan perguruan tinggi, maka tidak akan tercapai. Perguruan tinggi membuat mobil balap, misalnya, padahal yang dibutuhkan sekarang, mobil kota,” sambungnya.
Wacana mengenai sinergi antar keduanya sebenarnya telah terancang sejak lama, namun sampai sekarang masih terjadi industri dan perguruan tinggi yang berjalan sendiri-sendiri.
“Contoh yang saya buat di Malaysia sana, ada sebuah industri yang cukup strategis ke sana, saya undang ke kampus dan suruh mereka bayar gaji bagi lima mahasiswa, 2000 ringgit sebulan selama dua tahun, dan dosen yang supervisi diberikan 100 ribu ringgit untuk dua tahun,” sambungnya.
Erry mengatakan, industri sangat memerlukan apa yang bisa disuplai oleh perguruan tinggi, dan perguruan tinggi membutuhkan industri agar yang dihasilkannya menjadi tepat guna. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :