Dosen Perlu Miliki Ilmu Marketing

 
MALANG – Menjadi dosen, kini harus dituntut memiliki ilmu marketing agar materi yang disampaikan kepada mahasiswa tidak terasa membosankan, dan berujung terlewat begitu saja. Zaman yang canggih, perkembangan teknologi, mau tak mau telah menggeser paradigma belajar dengan siswa menjadi pusatnya, yakni Student Center Learning (SCL). 
Hal tersebut disampaikan Pakar Student Learning Method, Dr. Syamsul Arifin, MT dalam workshop Student Center Learning yang digelar atas kerjasama Universitas Gajayana Malang dan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) diikuti oleh dosen akuntansi dari perguruan tinggi di Jawa Timur, kemarin (19/10).
Menurutnya, SCL tidak harus berpusat pada siswa, namun dapat terlihat dari tujuan dari dosen dalam mengajar. Apakah karena ingin mengajar, atau agar mahasiswanya mau belajar.
“Bila ingin mahasiswanya belajar, maka dosen harus melakukan karakteristik terhadap tingkat kebutuhan mahasiswanya. Kalau sudah begitu, apapun metodenya maka telah masuk dalam paradigma SCL,” sambungnya.
Sekarang ini, dosen terikat pada peraturan undang-undang dengan tugasnya yang tak hanya sebagai pengajar dan peneliti, namun juga merancang pembelajaran, melaksanakan, melakukan monitoring dalam proses pembelajaran serta evaluasi.
“Pada saat merancang itulah, harus tahu bagaimana kebutuhan mahasiswanya. Kalau hanya maunya mengajar saja, maka nggak bakalan jadi proses pembelajaran,” imbuhnya. 
Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan IAI Wilayah Jawa Timur, Rovila El Maghviroh menyatakan, pengajar harus terus update perkembangan metode pengajaran, dan mengeksplore pemahaman mahasiswa lebih dalam.
Sementara itu, Rektor Uniga, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M, metode SCL ini telah diaplikasikan pada mahasiswa sejak di awal masuk kuliah, salah satunya melalui kontrak kuliah. Dengan ini, peran dosen tak hanya berpusat pada mengajar dan evaluator, namun juga mediator, fasilitator, motivator, dan agent of change.
“Pada saat masuk kuliah, kami bertanya pada mahasiswa darimanakah mereka memperoleh informasi tentang Uniga. Kebanyakan mereka menjawab dari website, maka kemudian akan terlihat pola cara bagaimana mereka mencukupi kebutuhan informasi. Dari situlah dapat dirancang metode pembelajarannya,” ujarnya. (ras/adv/oci)

Berita Lainnya :