Sebaiknya Uniga Jadi Institut


MALANG - Universitas Gajayana Malang (UNIGA) masih mempunyai waktu hingga akhir tahun 2019 untuk menyeimbangkan porsi Prodi Saintek. Uniga harus menambah tiga prodi sainstek lagi agar tidak dimerger atau berubah status menjadi institut. Jika tetap ngotot Soshum, Kemenristek Dikti menyarankan kampus itu menjadi Institut Ilmu Sosial saja.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Pengembangan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti, Ridwan Anzib kepada Malang Post, Jumat (20/10) kemarin. Ridwan mengatakan, peraturan itu sudah tertuang dalam Permenristek Dikti nomor 100 tahun 2016. Aturan itu tentang pendirian, perubahan, pembubaran perguruan tinggi negeri dan pendirian, perubahan, pencabutan izin perguruan tinggi swasta.
Dalam peraturan itu ditegaskan, setiap perguruan tinggi yang belum memenuhi syarat program penyehatan dan peningkatan mutu perguruan tinggi, akan diberi waktu transisi sampai tahun 2019. Dan bagi Perguruan Tinggi yang tidak bisa memenuhi, konsekuensinya adalah bergabung dengan perguruan tinggi lain atau mengubah status.
Persyaratan kampus bentuk universitas, menurut Kemenristek Dikti dengan standart kualitas, yakni kampus yang mempunyai minimal 10 prodi. Terdiri dari porsi prodi enam Saintek dan empat Soshum.
Seperti kasus Uniga yang telah diberitakan Malang Post sebelumnya. Menurut Ridwan jika belum mau menambah prodi Saintek, ia menyarankan agar kampus tersebut mengubah status menjadi institut.
"Memang setiap kampus mempunyai idealismenya sendiri. Kalau memang kampus itu merasa mereka maju dan berkembang dengan prodi Soshumnya, alangkah baiknya kalau mereka menjadi institut ilmu sosial," tegas dia.
Uniga mempunyai delapan prodi Soshum, di antaranya Prodi Psikologi, Sastra Inggris, Ilmu Komunikasi, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi, Pembangunan dan Perbankan. Sedangkan tiga prodi saintek yang dimiliki, adalah Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Sistem Informasi.
Ridwan mengungkapkan, seharusnya kampus sudah bisa berbenah sejak bulan Januari tahun ini. Menurutnya, waktu itu sudah cukup untuk kampus segera menentukan identitas, tapi juga tetap bisa mematuhi peraturan yang dibuat pemerintah.
Ridwan mengatakan, jumlah perguruan tinggi saat ini, baik negeri maupun swasta di Indonesia yang mencapai lebih dari 4.524 kampus ini terlalu menggelembung. Menurutnya, masih banyak kampus, khususnya swasta yang sulit berkembang karena berbagai masalah. Di antaranya, seperti kurang dosen, peminat mahasiswa rendah dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, ia meminta kepada PTS untuk terus melakukan pembinaan pada perguruan tinggi swasta (PTS). Agar segera melakukan upaya meningkatkan mutu dan kualitas, sehingga tidak mengalami merger kampus.
Selain membantu mengatasi masalah yang ada pada perguruan tinggi, bergabungnya sejumlah PTS tersebut juga bisa mengurangi jumlah kampus yang dinilai sudah terlalu banyak.
“Perguruan tinggi kita sudah terlalu banyak. Sedangkan yang berakreditasi A hanya 50,” tukasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan perlunya penguatan perguruan tinggi dengan manajemen yang lebih ramping, program studi yang lebih besar dan cakupan mahasiswa yang lebih banyak. Ridwan mengusulkan ada tiga tahapan agar PT bisa merger. Pertama, diutamakan terlebih dahulu bagi PT atau yayasan yang memiliki berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah. “Ini dulu sebab akan lebih mudah karena satu yayasan,” kata dia.
Kedua, keuntungan akan dirasakan dari yayasan yang mempunyai kesamaan visi antara yayasan satu dengan yang lainnya. Dan ketiga, yang mungkin terjadi adalah antara perguruan tinggi besar dan kecil supaya terjadi penguatan. Sehingga jumlah mahasiswa makin banyak, kualitas pendidikan makin baik dan dosennya makin banyak juga.
“Kami keluarkan peraturan, dulu aturannya yang tinggi-tinggi saja akreditasinya. Padahal justru yang menjadi masalah itu yang di perguruan tinggi kecil yang akreditasinya C, ini yang perlu kita merger dulu,” kata Ridwan.
Target Menristek ke depan bisa mencapai 75 atau 80 PT dengan akreditasi A. Harapannya, dengan adanya peraturan tentang peningkatan mutu perguruan tinggi ini, bisa tercapai.(sin/ary)

Berita Lainnya :