magista scarpe da calcio Merger PTS dari Yayasan Berbeda, Bisa Timbulkan Masalah Baru


Merger PTS dari Yayasan Berbeda, Bisa Timbulkan Masalah Baru


MALANG - Merger antara perguruan tinggi dalam satu yayasan masih memungkinkan untuk dilakukan dengan muda, namun menjadi tantangan bila perguruan tinggi berasal dari dua yayasan berbeda. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP) UM, Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd menyatakan, kondisi tersebut akan menimbulkan masalah baru bila tidak dipersiapkan secara matang sejak awal. 
Dia menambahkan, merger perguruan tinggi swasta sebenarnya memiliki tujuan yang baik. “Beberapa perguruan tinggi yang dirasa kurang memenuhi dari sisi jumlah program studi, jumlah mahasiswa, dan jumlah dosen, memang dapat melakukan merger. Dari sisi akademis ini bagus, karena dapat menjadi perguruan tinggi yang kredible dan memenuhi standar sesuai dengan yang diberikan Kemenristek Dikti,” ujarnya.
Dengan merger, satu perguruan tinggi dapat bergabung dengan perguruan tinggi yang lain. Namun, lanjutnya, hal itu bukanlah proses yang mudah untuk dilakukan, terlebih bila dua perguruan tinggi tersebut berada dalam dua yayasan berbeda.
“Karena dalam aspek manajemen dan pengelolannya, akan memerlukan perubahan dalam struktur yang mulanya ada dalam dua perguruan tinggi tersebut. Ini akan menjadi problem,” imbuhnya.
Melalui merger dengan kasus seperti ini, kewenangan dalam pengelolaan perguruan tinggi akan berbeda dibanding sebelumnya. Masing-masing yayasan harus memiliki kerja sama dan komitmen yang baik. Namun apabila merger dilakukan oleh dua perguruan tinggi dalam satu yayasan, maka masalah kepengurusan dapat diselesaikan dalam internal yayasan itu sendiri.
“Terlebih saat ini Ketek Dikti sedang mendorong Perguruan Tinggi Negeri untuk meningkatkan jumlah Angka Partisipasi Kasar atau jumlah mahasiswa, sehingga secara otomatis jumlah APK di PTS akan turun. Dan bagi sebagian PTS, ini akan menjadi semakin berat,” imbuhnya.
Senada, Rektor UMM, Drs. H. Fauzan, M.Pd menyatakan, dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan, merger ini dirasa baik. Terlebih dengan adanya fasilitas yang dapat diterima oleh perguruan tinggi swasta yang bergabung dengan perguruan tinggi yang sehat.
“Misalnya suatu perguruan tinggi memiliki prodi akuntansi dengan akreditasi C, maka ketika merger dengan perguruan tinggi dengan prodi akuntasi yang punya akreditasi B, maka akreditasinya akan menjadi B. Karena arah merger ini memang untuk menyehatkan kampus,” ujarnya.
Merger yang dilakukan pemerintah ini, lanjutnya, dilakukan pada perguruan tinggi serumpun, yang dimiliki oleh satu yayasan yang sama. Menyikapi merger antara dua perguruan tinggi yang sedang ‘sakit’, Fauzan menyatakan hal ini sepertinya sulit untuk dilakukan.
“Karena merger ini arahnya menyehatkan, sepertinya merger antara dua perguruan tinggi yang sama-sama sedang sakit bisa saja dilakukan, asalkan telah memiliki rancang desain yang baik, untuk menjadikan suatu perguruan tinggi hebat,” imbuhnya.

Fauzan juga menerangkan, penggabungan antara dua perguruan tinggi dan menjadi naik status, bukan disebut dengan merger, namun pengembangan dan dikategorikan sebagai pengajuan perguruan tinggi baru.
“Misalnya, antara dua sekolah tinggi kemudian bergabung menjadi insitut yang memiliki ketentuan jumlah prodi lebih tinggi, itu arahnya bukan merger, namun pengembangan. Hal tersebut bisa saja menjadi alternatif, namun kemudian menjadi pengajuan perguruan tinggi baru,” tutupnya. (ras/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang