Mahasiswa UMM Ciptakan Software Perancangan Kurikulum


MALANG – Perkembangan teknologi ternyata juga mampu membantu dunia pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.Seperti membuat perancangan kurikulum pendidikan tinggi ataupun silabus mata kuliah bukan hal mudah untuk dilakukan. Terutama bagi para dosen muda yang tidak memiliki dasar pendidikan pengajaran.
Atas dasar tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Galih Wasis Wicaksono SKom MCS dan Nur Putri Hidayah untuk membuat software perancangan kurikulum dan silabus.
Dalam software yang diberi nama Lective itu, dilengkapi dengan daftar kata kerja operasional lengkap dengan kesesuaian dengan capaian yang akan diraih."Semua dosen yang mengampu mata kuliah wajib membuat silabus untuk tiap mata kuliah. Sementara dosen baru tentu mengalami kesulitan saat penyusunannya, terutama yang tidak memiliki kemampuan pedagogis yang lebih dikuasai oleh lulusan Fakultas Ilmu Pendidikan," tutur Nur, Senin (23/10).
Kata yang disusun dalam silabus bukanlah sekadar kata sembarangan, namun harus sesuai dengan apa yang harus dicapai oleh mahasiswa. "Misalnya kata 'memahami' ternyata tidak bisa sembarang digunakan dan harus disesuaikan dengan capaian yang ingin diraih," lanjut dosen Fakultas Hukum itu.
Kata memahami dalam silabus manual, selama ini tidak mempunyai ukuran. Namun dalam aplikasi software ini, guru atau dosen mempunyai ukuran, bagaimana arti kata memahami. “Misalnya, selama ini dalam silabus dinyatakan, siswa dapat memahami, makna dari kewarganegaraan, dan definisi nasionalisme,’’ ujarnya.
Pada software ini, ada ukuran, siswa bisa memahami, nasionalisme jika mereka hafal pancasila. UUD dan lainnya. Juga ada poin khususnya. ‘’Ketika guru memasukkan nilai, arti kata memahami langsung keluar dalam nilai indikator memahami ada berapa poin,” tambahnya.
Selain itu, lanjut dia, juga ada contoh metode pembelajaran dan cara menyusun konten metode pembelajaran. Jadi dosen atau pengguna lain hanya tinggal memilih sesuai dengan kebutuhan mata kuliahnya. Jika kurang paham, kami juga sediakan video simulasi metode pembelajarannya.
Sedangkan khusus untuk penyusunan kurikulum pendidikan tinggi, Lective menyediakan template yang sesuai dengan kebijakan terbaru dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Ada template khusus untuk mengisi riset para dosen. Template ini disediakan agar dosen tidak perlu lagi membuat kerangka konsep penelitian. Ia mengatakan, jika sowtware ini digunakan pada perguruan tinggi, akan mendapatkan keuntungan ganda. "Sulitnya membuat kurikulum pendidikan tinggi itu bukan hanya saat penyusunannya, tapi juga waktu dan dana besar yang dibutuhkan untuk riset, tracer study," katanya.
Saat ini, Lective sudah digunakan oleh 96 dosen UMM dan luar UMM. "Responnya sangat bagus karena dosen muda kan tidak sedikit dan mereka rata-rata kurang memahami pembuatan silabus mata kuliah. Jadi mereka sangat antusias," pungkasnya. (sin/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...