Ditantang Pertanian Ramah Lingkungan, UB Siapkan Pabrik Porang


MALANG –  Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia mau tak mau membawa pada permasalahan baru, yakni ketersediaan pangan. Tak hanya pada segi jumlah, semakin tinggi tingkat akademik masyarakat, maka menuntut pada kebutuhan pangan yang sehat dan bernutrisi.
“Padahal, produksi pangan semakin terbatas karena masalah konversi, ketersediaan lahan, dan masalah irigasi. Produktivitas akan stagnan, sementara SDM untuk pertanian berkurang,” ujar Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Nono Rusono dalam gelaran konferensi di UB, kemarin.
Salah satu jawaban yang ditawarkan dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya pada kebutuhan pangan yang sehat yakni mendirikan pabrik pengolahan porang di desa Kepuharjo, kecamatan Karangploso. Porang, atau Amorphophallus mueller memiliki ‘rekan’ dari negara Jepang yang bernama Amorphophalus konjac yang biasa untuk produk jelly.   Amorphophalus konjac memiliki umbi yang berwarna putih, sedangkan porang berwana kuning keorenan.  
Porang merupakan suatu umbi yang mengandung glukomanan tinggi, salah satu bahan dengan kalori rendah sehingga cocok untuk beras tiruan rendah kalori dan makanan serta minuman rendah kalori lainnya. Sehingga, konsumsi glukomana sangat cocok untuk program diet.
 “Saat ini sedang kami bangun dengan target selesai di akhir tahun ini. Dananya sekitar Rp 2 Milyar. Sedangkan untuk pengisian alat baru akan dilakukan dan dianggarkan tahun depan,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M.App.Sc
Penelitian tentang porang berada di bawah payung Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia yang terdiri dari Prof. Simon B. Widjanarko, Dr. Aji Sutrisno, dan Adelya Desi K., M.Sc. Beberapa produk yang dapat ditambahkan tepung porang untuk menunjang sifat-sifat kenyal makanan yakni bakso, sosis, nugget, dan jelly.
Setiap tahun, Indonesia mengimpor ribuan ton chips umbi porang dan membelinya kembali dalam bentuk glukomanan. Sehingga, produksi glukomanan ini sendiri diharapkan dapat memutus rantai impor chips porang di Indonesia. Dalam porang sendiri terkandung kalsium oksalat yang dapat membuat gatal kulit, sehingga diperlukan suatu perlakuan khusus untuk menghasilkan produk sesuai dengan ketentuan yang diinginkan.
“Dari hasil penelitian  rekan-rekan untuk menghilangkan kalsium oksalat itulah yang kemudian dibuat teknologinya dan dibangun pabrik. Pabrik inilah yang nantinya akan menjadi keunggulan FTP, juga sebagai income generating,” imbuhnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :