SMAN 3 Malang Buka Cafe Elektronik


Sejak September lalu, siswa SMAN 3 Malang tak lagi membayar dengan uang tunai saat makan di kantin. Mereka cukup menggesek kartu pra bayar di mesin yang tersedia di kantin. Praktis dan mudah, bahkan menjadi langkah penghematan bagi sebagian siswa. Kartu ini diberi nama kartu Bhawikarsu. Secara otomatis, kantin sekolah juga berubah nama menjadi elektronik Café (e-Café) Bhawikarsu.
Jehan Ayu, siswa kelas 11-3 SMAN 3 Malang mengeluarkan kartu seukuran ATM dari kantung sakunya. Setelah memilih beberapa jajanan, ia pun melangkah tergesa ke sebuah mesin yang tersedia di area kantin. Ada sekitar enam perangkat mesin yang tersedia di sana.
Enam perangkat komputer ini adalah fasilitas yang disediakan sekolah untuk mendukung transaksi yang dilakukan oleh siswa di kantin.
"Uang saku saya sekarang diberikan secara bulanan karena ada model ini. Kalau dulu orang tua saya memberi uang secara harian," kata Jehan saat bertemu di e-cafe.
Jehan biasa mengisi deposit Rp 200.000 untuk dipakai empat minggu.
“Jadi, sehari Rp 5000 buat beli nasi," ujarnya.
Menurutnya, penggunaan kartu lebih simple. Ia juga lebih terbantu dengan kartu ini. Ketika guru mengumumkan kartu ini, ia pun langung membuka saldo. Orang tuanya pun juga senang, ketika ia menceritakan program baru sekolahnya ini. Menurut orang tuanya, dengan model e-cash seperti ini, orang tuanya menjadi lebih tenang. Karena anaknya sudah tidak perlu lagi membawa uang tunai. Disisi lain, menurut orang tuanya, sistem seperti ini bisa melatihnya untuk menabung dan mengelola keuangan pribadi.
Pengguna kartu Bhawikarsu, diharuskan mengisi dengan saldo. Ketika siswa sudah mempunyai saldo. Jika ingin membeli di kantin, mereka hanya tinggal menempelkan kartu pada layar yang tertera menu dan daftar harga. Ketika daftar menu dan daftar harga diklik, secara otomatis identitas mereka yang terdiri dari nama, nomor induk siswa (NIS) dan kelas keluar. Selanjutnya, ketika transaksi dilakukan melalui layar monitor, saldo berkurang dan menu yang ingin dibeli telah terbayarkan.
Saat ini, hampir 85 persen dari 875 siswa SMAN 3 Kota Malang sudah memiliki kartu ini.
Targetnya sampai akhir Oktober 2017, kartu sudah terdistribusi ke semua siswa.
“Memang baru diberlakukan September lalu untuk pembelian kartunya," jelas Lutfi Agung, Technical Support e-cafe.
Karena fungsi kartu seperti ATM, jika kartu hilang juga bisa dilaporkan ke nomer call centre/nomer pengelola kafe dalam kurun waktu 24 jam untuk diblokir.
Latar belakang berlakunya e-cafe karena ada kendala soal uang kembalian pembelian. Untuk mendapatkan recehan Rp 500 atau Rp 1000 juga tidak mudah.
"Sebab uang kembalian itu tak tergantikan oleh permen. Maka harus dikembalikan sesuai nominalnya," papar Lutfi.
Hal lain, lanjutnya, siswa juga terkadang lupa, ketika uang mereka tidak ada kembalian, mereka langsung meninggalkan kantin. Atau bahkan, sambungnya, terkadang siswa yang curang atau nakal langsung meniinggalkan kantin, ketika kondisi sedang ramai.
“Kalau dengan kartu ini, ketika mereka tidak membayar akan langsung terdeteksi otomatis,” bebernya.
Untuk promo kartunya, dengan membeli Rp 15.000, maka dapat deposit Rp 5000. Tujuannya agar terbiasa berbelanja non tunai. Harga itu hanya untuk pengganti awal pembelian chip, dan kartunya bisa dipakai selama bersekolah di SMAN 3. Selain siswa, guru dan karyawan juga memakai kartu jika ke cafe. Cara penggunaannya, warga sekolah setelah memilih makanan dan minuman, memasukkan data barang belanja ke komputer yang ada.
"Kendalanya kadang ada siswa gak tahu ini namanya makanan apa. Jadi petugas membantu," jelas dia.
Setelah selesai belanja, maka tinggal meng klik kartunya. Maka depositnya berkurang.
Menurut Lutfi, ia butuh waktu satu bulan untuk memasukkan data makanan minuman di kafe agar masuk ke sistem. Sehingga bisa diklik pengguna. Karena itu, pemasok tidak boleh seenaknya mengganti menu karena fotonya jadi beda. (sinta/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...