Atraksi Pramuka Warnai Pelepasan Siswa Thailand di SMAN 9


 
MALANG – Sejak tiga tahun terakhir ini, siswa SMAN 9 Malang mendapatkan kesempatan belajar budaya dengan siswa Thailand melalui program pertukaran pelajar dengan Lat Yao Witthayakhom School. Tahun ini, sembilan siswa sekolah tersebut datang dengan belajar dan tinggal bersama dengan siswa SMAN 9 Malang sejak 17 Oktober lalu, dan akan bertolak pulang hari Jumat (27/10).
”Di sini mereka belajar kehidupan sosial, kebudayaan masyarakat dan mengikuti pembelajaran sekolah sesuai dengan kelas buddy-nya, siswa yang diikuti,” ujar koordinator program Student Exchange, Drs. Budi Putranto, MM.
Pada tanggal 17 Oktober lalu, rombongan yang terdiri dari 10 orang guru dan 9 siswa tersebut diterima di Bandara Ngurah Rai Bali, untuk selanjutnya berkeliling di berbagai tempat di Bali untuk belajar kebudayaan di sana.
Destinasi selanjutnya, yakni melihat sunrise di gunung Bromo. Selama di Malang, mereka tinggal secara bergantian pada siswa yang telah ditunjuk, dan mengikuti pembelajaran sesuai dengan kelas siswa tersebut.
Sebagai pelepasan, kemarin (26/10), siswa SMAN 9 Malang menampilkan berbagai atraksi khas Indonesia, salah satunya atraksi pramuka, dan menyanyikan lagu Tanah Air Beta dengan gubahan keroncong. Hari ini, siswa Thailand tersebut akan bertolak ke Balai Among Tani untuk diterima oleh PLT Sekda Kota Batu.
”Bagi siswa laki-laki akan dipersilahkan belajar di alun-alun kota Batu, dan selanjutnya menjajaki wisata di Museum Angkut sekaligus makan siang dan perpisahan dengan orang tua maupun buddy yang mendampingi selama di Malang,” sambungnya.
Januari mendatang, 30 siswa kelas 10 dan 11 SMAN 9 Malang akan mengikuti student exchange selama 10 hari di Thailand dengan tujuan serupa, yakni belajar kebudayaan dan sosial masyarakat.
”Masyarakat Thailand memiliki keterikatan yang kuat dengan raja-nya. Bila menemukan foto raja-nya saja, mereka bersikap hormat. Jauh berbeda dengan di Indonesia. Oleh karena itu, siswa SMAN 9 Malang bisa memetik apa saja kebudayaan dari Thailand yang bisa berguna untuk survive di kehidupan mendatang,” imbuhnya. 
Untuk membantu komunikasi antar dua bahasa, pihaknya telah bekerja sama dengan dua mahasiswa UMM sebagai penerjemah. Berjalan selama tiga tahun, Budi mengatakan akan melakukan evaluasi terhadap pertukaran pelajar dengan menyasar sekolah lain atau bahkan negara lain.
”Tapi untuk sekolah mana yang akan kami tuju, kami masih belum menentukan,” ujarnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...