SMA Darul Ulum Agung , Raih Juara 1 Kejurda Motocross Jatim


MALANG – Sebagai satu satunya sekolah yang memiliki ekstrakurikuler ekstrim berupa motocross, SMA Darul Ulum Agung yang berada di Jalan Mayjend Sungkono No.9, Bumiayu senantiasa mendukung setiap langkah siswanya agar terus mengukir prestasi khususnya di bidang motocross. Hampir tiap bulan, SMA Darul Ulum Agung selalu aktif mengikuti berbagai kompetisi baik di lingkup regional hingga nasional.
Karena keaktifannya mengikuti beragam kompetisi tersebut, SMA Darul Ulum Agung seringkali berhasil mengukir prestasi yang membanggakan. Seperti pada Kejurda Motocross yang belum lama ini digelar di Pasuruan, tim dari SMA Darul Ulum Agung berhasil keluar sebagai juara 1 Kejurda Jatim dengan raihan poin terbanyak.
“Kalau yang kemarin itu kita memang main aman saja. Tidak terlalu ngotot. Fokus memang untuk mengamankan poin saja. Persiapan sudah maksimal, Alhamdulillah kita bisa mendapatkan podium juara,” ujar H. Mustaqim Faizin, SH., M.H.I Kepala SMA Darul Ulum Agung kepada Malang Post, kemarin.
Setelah Kejurda Motocross di Pasuruan, tim dari SMA Darul Ulum Agung yang bernama DU’A MX tersebut kini bersiap mengikuti Kejurda Motocross yang akan digelar di Jember. Total sebanyak 8 pembalap dari kategori 65cc, 85cc hingga 250cc akan berlomba untuk merebut podium.
SMA Darul Ulum Agung memang sejak lama dikenal sebagai sekolah yang mengunggulkan ekstrakurikuler motocross. Bahkan pada tiap kompetisi, SMA Darul Ulum Agung telah dikenal sebagai satu satunya sekolah berbasis pesantren yang mencetak pembalap atau crosser handal. Saat kompetisi pun, hampir selalu terdengar slogan ‘Ngaji Oyi Balap Oyi’ yang merupakan ciri khasnya.
“Ya memang anak-anak ini di pesantren, jadi sekolah di sini dan ekstrakurikuler motocross latihannya di sini. Rutinitas hariannya pun disibukkan dengan sekolah dan ngaji karena kita memang sekolah berbasis pesantren. Walaupun balap motocross juga harus ngaji,” jelas Faiz sapaan akrabnya.
Olahraga motocross memang membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra. Dengan kesibukan sekolah dan ngajinya, pembalap motocross di SMA Darul Ulum Agung memang dilatih untuk membagi waktunya sebaik mungkin antara waktu sekolah, ngaji dan latihan motocross.
Selain itu, Ketua Yayasan Darul Ulum Agung, Dr. H. M. Mudjib Musta’in SH., M.Si juga mengatakan ekstrakurikuler yang jarang dimiliki di sekolah atau pesantren pada umumnya tersebut memang merupakan salah satu olahraga yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, demi terwujudnya lulusan yang sesuai dengan tujuan sekolah, semua pihak mulai dari siswa, guru, hingga orang tua atau wali murid selalu mendukung kegiatan siswa.
“Olahraga apapun kalau dilakukan dengan profesional, apa yang tidak membutuhkan biaya besar? Dari biaya yang biasanya besar, di sini kalau dihitung-hitung terbilang lebih murah. Di sini ada bengkel kemudian ada sirkuit balap. Sirkuit ini sudah standar nasional,” ujar Gus Mudjib, sapaannya.
Meski selalu total dalam setiap kompetisi motocross, Gus Mudjib pun tak lupa untuk selalu menekankan pada setiap muridnya agar tidak melupakan agama. Karena yang paling berharga adalah bekal agama.
“Yang paling tidak bisa dibeli ya ngaji, jadi seorang pembalap juga harus ngaji. Rutinitas harian ya tidak lupa selalu ngaji,” imbuhnya. (yan/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :