IPK 4,0 Selama Kuliah 4 Tahun


MALANG – Yusuf Amhar S.Pd, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika ini sukses mempertahankan IP sempurna hingga di delapan semester masa kuliahnya, membuat dia lulus dengan IPK absolute, 4.0 dan jadi salah satu lulusan terbaik dalam wisuda kali ini.
Dalam penelitian tugas akhirnya, Yusuf mengembangkan sebuah buku suplemen matematika berbasis kurikulum 2013 berdasarkan kearifan lokal. Hal ini menurutnya dapat membuat peserta didik menjadi lebih mudah memahami materi.
“Dalam sebuah soal matematika, kadang siswa justru bingung pada penggunaan variable, bukan pada rumus atau materinya. Sehingga kemudian variable yang biasanya X dan Y saya ganti dengan kearifan lokal kota Batu, misalnya apel Batu,” ujar anak kedua dari pasangan Samsuhud dan Munawaroh ini.
Menurutnya, masih banyak kearifan lokal kota Batu yang perlu diketahui. Selain wisata Jatim Park yang telah terkenal, ada banyak tempat wisata kota Batu yang menarik. Meski begitu, konsep pembelajaran masih berada pada hal-hal ilmiah, dimana siswa mengamati, menalar, menggali materi, mencoba mengerjakan dan mendiskusikannya dengan rekan.
Selain berkuliah, Yusuf juga disibukkan dengan aktivitas sebagai guru privat dan mengajar ekstrakurikuler Badan Dakwah Islam. Dia juga membantu di ladang serta memiliki usaha tanaman. Setiap waktu kosong dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar. Dia memilih untuk menjadi guru matematika karena melihat banyak di sekelilingnya yang merasa matematika sebagai mata pelajaran yang sulit.
“Sehingga peluangnya untuk di bidang tersebut akan semakin besar, mengingat pesaingnya yang sedikit,” sambungnya.
Ke depan, dia masih akan disibukkan dengan kegiatan mengajar, sambil menunggu waktu yang tepat dan rezeki untuk melanjutkan kuliah, mengejar cita-citanya sebagai dosen.
Sementara itu, dr. Jefri Effendy, lulusan terbaik program studi profesi dokter ini mengaku sejak kecil cita-citanya adalah menjadi insinyur mesin. Namun karena motivasi dari lingkungan, membuatnya mengambil profesi sebagai dokter.
“Kalau insinyur mesin mengotak-atik mesin, tentu dapat dikembalikan seperti smeula. Sedangkan kalau mengutak-atik manusia, banyak faktor yang bisa mempengaruhi agar tubuhnya kembali sembuh. Dan inilah yang menjadi tantangannya,” ujarnya.
Selama hampir dua tahun menjalani masa praktek, banyak hal menarik yang dialami. Selain belajar berbagai ilmu yang tidak didapatkannya di kampus, namun dia juga menemukan keunikan pada keragaman suku dan budaya di Idonesia, yang kadang membuat misskomunikasi.
Lulusan dengan IPK 3.40 tersebut merasa bahwa belajar bukanlah sebuah tuntutan, namun kebutuhan.
“Bila tidak belajar, maka ilmnu yang saya dapatkan tentu tidak sempurna. Sedangkan saya tidak mau merugikan orang lain, selaku pasien saya saat melayani mereka,” imbuh anak pertama pasangan Imron Rosyadi dan Sri Andayani ini. (ras/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :