Mahasiswa 11 Provinsi Bersatu di STISOSPOL Waskita Dharma


MALANG – Peringatan momen Hari Sumpah Pemuda di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISOSPOL) Waskita Dharma Malang berlangsung sukses dan meriah, Sabtu (28/10). Pada momen tersebut, STISOSPOL pun juga menyesuaikan  dengan tema yang digelorakan oleh kementerian pemuda dan olahraga, yakni ‘Pemuda Indonesia Berani Bersatu’. 
Seluruh mahasiswa STISOSPOL tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Diawali dengan kegiatan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh civitas kampus, semua peserta upacara diwajibkan menggunakan pakaian adat dari daerahnya masing-masing. Diketahui sejak lama, memang seluruh mahasiswa STISOSPOL memiliki latar belakang asal daerah yang beragam.
“Mereka diwajibkan untuk memakai baju adat dari masing masing daerahnya dia. Di STISOSPOL Waskita Dharma ini ada sekitar 11 asal provinsi. Yang dari Lombok ya pakai pakaian adat Lombok. Yang dari Bali ya pakai pakaian adat Bali,” ujar Dr. Sigit Wahyudi S.E., M.M., Ketua Yayasan STISOSPOL Waskita Dharma Malang.
Tak hanya saat upacara saja, keragaman budaya bahkan berlanjut saat lomba kuliner setelah upacara usai. Setiap kuliner yang diperlombakan juga merupakan kuliner khas asal daerah mahasiswa tersebut. Setiap mahasiswa bebas berkreasi memasak masakan kuliner khas daerahnya dan selanjutnya akan dilakukan penjurian untuk menentukan hasil masakan.
“Disamping mereka upacara, kemudian mereka diberi kesempatan untuk memamerkan dan menjelaskan baju adatnya dan juga kulinernya. Jadi mereka diminta memasak itu bukan dari belajar dari orang lain, tapi dari apa yang pernah mereka lakukan di tempat asalnya. Dari Papua ada papeda, dari Sulawesi ada bubur, dari Madura sate, dan lain lain,” kata Sigit, sapaannya.
Pada kesempatan tersebut, Sigit juga menyampaikan, melalui peringatan seperti ini bertujuan untuk menghargai perjuangan para pemuda di zaman dahulu.
“Kalau dulu perjuangan mengumpulkan pemuda kan harus menghubungi daerah daerah. Butuh waktu yang sangat lama. Sedangkan gambaran sekarang Bhinneka Tunggal Ika ini sudah ada di Waskita Dharma ini. Kalau hanya pakaian adat kan tidak berat seperti pejuangan jaman dahulu,” ujarnya.
Sigit kemudian menambahkan harapannya agar kedepan lulusan kampus STISOSPOL Waskita Dharma mampu menerapkan ilmu yang didapatkan untuk masa depannya dan juga untuk masyarakat dis ekitarnya.
“Ya kalau ke depan harapan kita, paling tidak tentu ilmunya barokah, bisa dikembangkan di masyarakat, kemudian yang berbeda itu jangan dijadikan sebuah perbedaan. Tapi yang berbeda itu jadikan sebuah nilai yang bisa kita ambil maknanya untuk menatap masa depan yang lebih cerah lagi,” pungkas Sigit. (yan/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :