magista scarpe da calcio Unisma Dukung Kemenlu Bangun Timur Tengah


Unisma Dukung Kemenlu Bangun Timur Tengah


MALANG - Potensi Islam Nusantara yang dimiliki Indonesia nampaknya harus menjadi unggulan dalam mengenalkan ke-Islaman, khususnya di Timur Tengah yang saat ini sedang berkonflik. Maka, sebagai perguruan tinggi yang membawa misi Islam, juga sebagai program internasionalisasi, Unisma siap bekerja mendukung Kementrian Luar Negeri membangun Timur Tengah.
"Bila Timur Tengah bermain dengan senjata, Indonesia bermain dengan Majlis Taqlim dan Majlis Dzikir. Dengan adanya perbedaan suku, agama dan ras, namun dengan Bhineka Tunggal Ika, Indonesia tetap bersatu. Untuk itu, Indonesia menjadi negara yang strategis untuk mengenalkan Islam," ujar Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si dalam sambutannya pada acara Seminar bertema IORA dan Masa Depan Hubungan Indonesia - Timur Tengah : Meretas Mitra Strategis Trans Hindia.
Seminar ini, menghadirkan Direktur Timu Tengah, Kementrian Luar Negeri RI Sunarko. Keberadaan pesantren pun juga menjadi aset besar yang dapat dijual ke Timur Tengah, karena pesantren tak hanya mengembangkan agama namun juga budaya, ekonomi, serta kesenian.
Maskuri melanjutkan, Indonesia memiliki destinasi yang luar biasa didukung dengan pendidikan yang luar biasa dan jumlah penduduk yang besar. Potensi ini perlu mendapatkan sentuhan teknologi dan kerjasama bilateral dalam ekonomi sangat dimungkinkan. Dari sisi seni budaya, Indonesia punya peran yang melimpah dibandingkan dengan negara lain.
"Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan situasi di negara kita yang trans nasional, terutama munculnya paham-paham radikal. Ini adalah perang strategis agar ciri Islam nusantara tidak terkontaminasi oleh paham-paham baru," lanjutnya.
Unisma bekerja sama dengan Kementrian Luar Negeri RI,  dengan mendukung berbagai programnya. Terlebih, Dikti telah mencanangkan program internasionalisasi melalui KUI dan Unisma telah bekerja melalui penerimaan mahasiswa asing dari enam negara.
Direktur Timur Tengah, Kementrian Luar Negeri RI Sunarko, mengatakan kebijakan luar negeri haruslah membumi, mengakar dan berorientasi pada kebermanfaatan langsung pada rakyat.
"Inilah yang harus dilakukan karena unsur ini di kalangan dunia usaha dan akademisi sangat penting untuk menyambung peran dan berkoordinasi dalam rangka implementasi pelaksanaan kebijakan," ujarnya.
Pihaknya bertugas untuk menangani hubungan bilateral dan kerjasama di lebih dari 21 negara Timur Tengah. Melihat perkembangan akademik yang dinamis di Unisma, Sunarko menilai mahasiswa Unisma dapat sebagai calon wakil negara dalam menjalankan peran diplomatik.
"Diplomatik ini tak hanya dari kalangan pejabat, namun siapa saja yang bekerja untuk membangun negaranya," ungkapnya.
Menegaskan internasionalisasi Unisma, pada Juni nanti akan diselenggarakan pertemuan dengan 147 negara menggandeng lembaga perlindungan konsumen. Program BIPA yang telah ada di Unisma akan menjadi embrio bagi dibukanya program studi S2 BIPA. Program ini telah diinisiasi oleh Universitas Indonesia dan Unisma akan menjadi perguruan tinggi yang kedua. (ras/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :