Tak Perlu Impor, Pewarna Alami Kini Diproduksi Ma Chung


MALANG - Berangkat dari keprihatinan terhadap dampak negatif penggunaan pewarna sintetis dalam makanan, para peneliti Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments (MRCPP) mengembangkan riset untuk menciptakan pewarna alami yang bisa digunakan dalam makanan dan minuman. Produk pewarna alami siap pakai MRCPP diberi nama “NatChrom” yang terinspirasi dari kata natural (alami) dan “chroma”  yang berarti warna dalam Bahasa Yunani.
Ada dua produk NatChrom yang sekarang dipasarkan, pewarna alami food grade dan produk pigmen standar dengan kemurnian 95% (analytical grade).
“Pigmen standar analytical grade sebenarnya telah diproduksi oleh negara-negara Eropa, dan biasanya Indonesia menjadi pihak pengimpor,” terang Renny Indrawati, M.Nat.Sc, salah satu peneliti MRCPP dirilis Humas Ma Chung.
Menurutnya, masa tunggu yang panjang, ditambah waktu transfer produk dalam perjalanan lintas negara, serta kondisi suhu yang tidak terjaga dalam waktu lama selama pengiriman sering menimbulkan proses degradasi dan kerusakan pigmen sebagian. Untuk itu, lanjutnya, diharapkan produksi dalam negeri dapat menyediakan pigmen standar bagi lembaga litbang di Indonesia ataupun kawasan Asia Tenggara.
“Sedangkan pigmen food grade kami produksi sebagai alternatif pengganti pewarna sintetis pada makanan yang sekarang marak digunakan. Pewarna makanan sintetis jika dikonsumsi terus menerus dapat menyebabkan ADHD,” terangnya.
Sebenarnya, kata dia, pewarna makanan alami bisa didapatkan dari buah, sayur, atau bunga, namun diperlukan proses yang panjang untuk mendapatkannya.
Misalnya, lanjutnya, daun suji untuk pewarna hijau, ketela untuk pewarna ungu, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan warnanya, biasanya prosesnya panjang, warnanya tidak tahan lama atau tidak stabil, dan bisa mempengaruhi rasa makanan.
“Di Indonesia, belum ada pewarna alami siap pakai untuk makanan. Oleh karena itulah, dengan penelitian sejak 2015, kami berhasil memproduksi pewarna makanan alami siap pakai,” sebutnya.
Di MRCPP, lanjutnya, peneliti menggunakan teknologi mikroenkapsulasi untuk untuk meningkatkan stabilitas pigmen, dan diikuti oleh teknik liofilisasi atau proses kering beku untuk menekan kerusakan pigmen alami akibat pengaruh suhu tinggi sehingga warnanya dapat tetap cantik dan tahan lama.
Berlimpahnya bahan baku untuk pigmen alami di Indonesia merupakan potensi tinggi untuk produksi pewarna alami. Negara tropis yang mendapat pancaran cahaya maksimal sepanjang tahun memiliki kekayaan vegetasi yang memproduksi pigmen alami dengan fungsi biologis untuk menangkap energi cahaya. Sejumlah bahan baku potensial justru diekspor dalam wujud bahan mentah, seperti kunyit, ubi jalar, mangga, manggis, serta bunga krisan kuning. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pewarna alami hasil ekstrak hasil alam tersebut adah melalui penerapan teknologi mikroenkapsulasi untuk meningkatkan proteksi dan kelarutan pigmen alami, serta liofilisasi (kering beku) untuk menjaga kestabilan dan memperpanjang masa simpan pewarna alami. Dengan kata lain, prototipe industri pewarna alami siap pakai dengan masa simpan yang memadai sangatlah prospektif untuk diinisiasi di Indonesia, mengingat potensi ketersediaan bahan baku, kecenderungan konsumsi pasar “back to nature”, serta sebagai alternatif mengurangi ekspor bahan mentah. (oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :