Rumuskan Kurikulum Keislaman untuk Non Muslim


MALANG - Meski merupakan kampus Islam, ternyata terdapat banyak mahasiswa non muslim di Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Di UMM saja, jumlahnya berkisar di angka 600. Sedangkan di STKIP Muhammadiyah Sorong, jumlah mahasiswi non muslim mencapai angka 74 persen dari total mahasiswa keseluruhan. Sejauh ini, mahasiswa non muslim menyesuaikan muatan pendidikan agama di PTM, dalam hal ini Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
“Di beberapa PTM, mahasiswa non muslim boleh mengikuti tapi ketika pembelajaran praktik, diganti dengan tugas lain, misalnya baca tulis Al Quran. Prakteknya berbeda dalam setiap PTM. Untuk itu, sebagai mata kuliah tambahan, mata kuliah AIK untuk mahasiswa non muslim perlu disusun ulang dengan tujuan sebagai kajian keilmuan,” ujar Budi Ashari, M.A., tim asistensi Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah.
Untuk itu, kemarin, dilakukan workshop AIK untuk mahasiswa non muslim, selain menghadirkan pembicara bagaimana implementasi pendidikan AIK di PTM, juga diskusi perumusan kurikulum.
“Kita tidak bermaksud untuk mengislamkan, tapi karena ini adalah perguruan tinggi islam, jadi mahasisiwa non muslim paling tidak tahu islam itu seperti apa. Dan untuk menjelaskan mengenai islam kepada mereka, tentu beda cara dengan yang dilakukan untuk mahasiswa muslim,” ungkapnya.
Dengan workshop ini, nantinya akan dihasilkan sebuah kurikulum dan panduan yang akan disebar di seluruh PTM di Indonesia.
Dosen AIK STKIP Muhammadiyah Sorong, Ribut Purwo Juono, M.Pd.I menjelaskan, selama ini pembelajaran mata kuliah di kampusnya terdiri dari delapan SKS yang terbagi dalam empat semester. Mahasiswa non muslim menjadi mayorityas, dengan angka mencapai 74 persen dari 2838 mahasiswa.
Bagi mahasiswa non muslim, wajib mengikuti mata kuliah pendidikan agama dari dosen seagama pada semester pertama dan kedua. Selanjutnya, mata pelajaran AIK di semester ketiga dan keempat diikuti secara bersama-sama dengan mahasiswa muslim, dan diampu oleh dosen AIK.
“Dalam hal ini, kami justru ingin memberikan kesempatan pada yang bukan muslim untuk mengenal nilai-nilai islam secara universal dan dapat diterima oleh semua golongan agama, sehingga bisa timbul kesepahaman bahwa kebenaran di Islam, ada pula di yang lain, terlepas dari masalah keyakinan,” ucap Ribut. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :