SMKN 13 Gelorakan Budaya Literasi

 
MALANG - Kepala SMKN 13 Malang Dr Husnul Chotimah memaparkan tentang budaya literasi di sekolah yang dipimpinnya. Tak hanya kepada siswa tapi juga kepada guru di lingkungan SMKN 13 Malang. 
Dr Husnul Chotimah memaparkan hal ini dalam seminar nasional ke 4 bertema, "Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran untuk Mewujudkan Budaya Literasi Sekolah", di SMKN 13 Malang, Sabtu (4/11).
Seminar ini juga menghadirkan pemateri dari Dewan Pendidikan Kota Malang, Prof. Dr. Agr. M. Amin S.Pd.Msi. Selain seminar, acara tersebut juga menjadi wadah penulis untuk menyerahkan hasil karya tulisannya. Ada 41 pemakalah yang berpartisipasi.
“Literasi di sekolah kami bukan saja diterapkan kepada siswa, namun juga kepada guru. Antara siswa dan guru, keduanya harus membudayakan membaca,” papar Husnul. 
Untuk membudayakan membaca, Husnul memberikan motivasi kepada para guru agar membiasakan menulis.
“Saya selalu mengajak  guru untuk menulis. Menulis adalah bagian dari budaya membaca,” katanya. 
Motivasi yang diterapkan di SMKN 13 bukan hanya melalui kata-kata yang memberikan dorongan saja. Namun juga melalui tindakan. Husnul selalu memberikan deadline kepada para guru untuk menulis.
Deadline yang diterapkan berbeda, misalnya 15 halaman untuk waktu beberapa minggu. Apresiasi yang diberikan yakni hasil karya tulis yang bagus akan ia jadikan buku.
Untuk tahun ini, Husnul sudah berhasil membuat 12 guru menghasilkan buku. Buku yang dihasilkan oleh guru ini juga dijadikan sebagai referensi bacaan siswa. Buku ini dibuat berseri Santana (SMK berbasis taruna).
“12 guru ini memang masih kolaborasi. Nantinya saya akan mengajak mereka membuat secara personal,” ujar mantan dosen Pendidikan Biologi UMM ini.
Budaya ini diterapkan, sebab menurutnya siswa dan guru bisa lebih interaktif lagi. “Kalau siswa membaca hasil karya guru. Dialog mereka tentang buku yang dijadikan refrensi nyambung. Sehingga mereka bisa lebih interaktif lagi dalam berinteraksi dan berkomuniksi,” beber alumni doktoral biologi UM ini.
Namun, selain menggunakan buku karya guru untuk membaca, Husnul mengatakan ia juga tetap memerbolehkan siswa membawa buku sendiri dari rumah.
Selain literasi sekolah, Husnul juga memaparkan tentang pendidikan karakter berbasis religius yang diterapkan di sekolahnya. Ia menjelaskan kegiatan agama yang dilakukan siswa setiap harinya untuk membentuk karakter siswa.
“Jadi siswa bisa menerapkan budaya literasi dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka sudah dibekali dengan budaya religius, yang didalamnya juga mengajarkan membaca atau iqra’” bebernya.
Budaya literasi dan pendidikan karakter yang diterapkan oleh Husnul ini, memberikan kesan kepada kepala SMK Majalengka, Adam. Ia mengaku senang dengan pemaparan yang diberikan Husnul.
“Saya terinspirasi dengan pemaparan ini. Saya juga akan menerapkannya di sekolah saya,” kata Adam. (sin/van) 

Berita Terkait

Berita Lainnya :