Lulusan Animasi Didekatkan dengan Industri


MALANG – Tak ingin muluk-muluk, Program Studi D3 Animasi UM hanya ingin kompetensi yang dimiliki mahasiswanya sesuai dengan kebutuhan industri. Untuk itu, beberapa waktu yang lalu digelar pertemuan antara program studi animasi di beberapa kampus dan industri studio untuk sinkronisasi kebutuhan industri dan kompetensi lulusan.
“Hasilnya, ada banyak keluaran yang diinginkan. Seperti misalnya mereka ingin ada lulusan animator, modeler, special effect, texturing. Sebagaian besar sudah kami sediakan,” ujar Koordinator Program Studi D3 Animasi UM, Andy Pramono.
Agar kompetensi lebih terstandar, maka ke depan akan dibuat suatu standar kompetensi nasional industri animasi. Untuk itu, beberapa waktu yang lalu Andy diundang ke Jakarta untuk menghadiri prakonferensi bidang animasi, untuk menetapkan standar sesuai dengan KKNI.
Andy mengatakan, sebenarnya minat masyarakat pada film animasi terbilang tinggi. Baik anak-anak hingga orang dewasa masih menyukai hiburan jenis ini. Namun rupanya, ketertarikan mereka masih terpaku pada industri buatan luar negeri.
Hal ini dapat terlihat dari rendahnya jumlah penonton pada penayangan film animasi karya mahasiswa Amikom, Battle of Surabaya. Dari biaya produksi sebesar Rp 12 miliar, nyatanya hanya dapat meraih pendapatan sebesar Rp 2 miliar saja. Padahal, kata Andy, film tersebut tak kalah kualitas dari film Disney, Frozen.
“Makanya kami tak ingin muluk-muluk membuat film. Kecuali ada yang memberikan hibah. Sebenarnya kami bisa saja membuat dan membeli slot untuk tayang di televisi, tapi sepertinya industri pertelevisian sekarang ini lebih menyukai rating, yang sebagian besar diperoleh dari acara reality show,” ungkapnya.
Lulusan D3 Animasi UM saat ini kebanyakan bekerja di bidang animasi, menggarap proyek luar negeri dengan bayaran yang lumayan. Salah satunya, seorang alumni yang kini bekerja di Studio Infinite di Batam. Untuk mengerjakan satu proyek, dia dapat menerima gaji bersih hingga Rp 3,5 juta, tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya hidup. Dalam satu bulan, dia dapat mengerjakan dua hingga tiga proyek.
Bidang pekerjaan ini, lanjut Andy, sangat dekat dengan bidang wirausaha. Tak heran bila sekarang kebanyakan CEO studio di Malang, merupakan alumni D3 Animasi UM. Sebagian lagi bekerja sebagai freelance animator.
Meski diburu industri, namun ternyata jumlah mahasiswa dalam satu angkatan di Program Studi D3 Animasi, UM tak memenuhi permintaan industri. Dengan jumlah mahasiswa 30 orang, salah satu studio animasi di Bali bahkan meminta 50 lulusan.
 “Orang tua banyak yang tidak tahu kalau kebutuhan industri di bidang ini besar. Untuk itu, kami menjalin kerja sama dengan SMK Animasi,” lanjutnya.
Saat ini, lanjutnya, belum ada animator Indonesia yang berada pada level supervisor. Dan untuk mencapainya dibutuhkan pengalaman yang cukup lama di bidang ini. Andy menambahkan, bukan tidak mungkin pekerjaan ini menghasilkan pundi rupiah yang cukup menggiurkan. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...