Kearifan Lokal Jadi Fokus Penelitian Unikama


MALANG – Dinilai penting, kearifan lokal menjadi basis penelitian dan keunggulan di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Ini didasarkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi potensi daya saing bangsa, dan memiliki kekuatan yang tidak kalah dibandingkan dengan hal-hal berbau impor, baik teknologi maupun barang.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, contoh kearifan lokal yang bisa diangkat yakni permainan tradisional yang dikembangkan sebagai media pembelajaran. Perekonomian masyarakat yang berbasis tradisi dapat menjadi keunggulan dalam pengembangan ekonomi, sehingga masyarakat tak selalu harus mengacu pada sistem ekonomi yang senantiasa berpacu pada model persaingan bebas.
“Contohnya sistem arisan yang merupakan khas Indonesia. Itu dapat diangkat sebagai model untuk membangun ekonomi bersama dengan menerapkan konsep saling menolong. Jualan mlijo yang dulu dilakukan oleh orang tua sambil memanggul dagangannya, juga khas Indonesia sekali,” ujarnya.
Kemajuan zaman dan teknologi mau tak mau menggilas kearifan lokal masyarakat. Sistem layanan jual beli kini tak lagi memuat unsure komunikasi dan kedekatan personal antara penjual dan pembeli.
Menurutnya, tema kearifan lokal tidak akan membuat penelitian tersebut terbatas pada beberapa bidang. Bidang peternakan, ekonomi, hingga pendidikan, tak akan habis hingga 20 tahun.
Saat ini, jumlah penelitian di Unikama yang mendapatkan dana hibah dari dikti cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Ini disebabkan oleh perubahan skema penelitian dan proses penyaringan yang benar-benar ketat.
“Lolos atau tidaknya penelitian dosen pemula, hibah doktor, dan hibah pascasarjana sekarang ada dalam kewenangan pusat, sehingga sistem seleksinya lebih ketat karena bersaing dengan peneliti di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Pelatihan kepenulisan di Unikama telah menjadi kesadaran dari pihak program studi. Sehingga, LPPM bertugas menyusun formulasi yang tepat agar penelitian dosen meningkat. Namun, dia mengaku saat ini penelitian masih terkendala dengan jabatan akademis dosen.
“Karena bila penelitian dari dikti, maka peneliti haruslah dari jabatan doktor atau lector kepala. Sedangkan untuk dosen pemula hanya dibatasi dua kali menerima hibah penelitian,” sambungnya.
Untuk itu, pihaknya mendorong para dosen untuk meningkatkan kapasitas, tak hanya dengan meneliti namun juga menambah gelar.
“Kami rasa bila seorang sudah fokus dan terpanggil untuk menjadi dosen, maka dia akan merasa terpanggil untuk menjadi doktor atau guru besar. Kalau sudah mempunya gelar itu, maka peluang untuk ikut dalam berkegiatan akan lebih luas,” tutupnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :