Bentuk Tim Madrasah Siaga Bencana, Beranggotakan 150 Siswa yang Lulus Diklat


MALANG - MAN 3 Malang kini memiliki tim Madrasah Siaga Bencana (MSB). Tim ini dibentuk melalui program pengembangan potensi siswa MAN 3 Malang dari Bidang Bela Negara. Mereka siap membantu menanggulangi korban bencana alam. Tim beranggotakan 150 siswa ini telah mengikuti diklat pada, Minggu, (5/11).
Selama diklat yang digelar dua hari tersebut, para siswa dibekali dengan banyak materi. Baik secara teori, lebih-lebih materi praktek. Sebab didalam menanggulangi bencana, peran mereka lebih berupa tindakan. Dimana skill yang dimiliki harus ditunjang dengan kecakapan, kecekatan dan ketepatan  dalam bertugas.
Dalam hal ini, MAN 3 Malang bekerjasama dengan pihak terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang. Termasuk diantaranya yang bertindak sebagai pemateri dan tutor bagi siswa selama masa diklat.
Waka Kesiswaan MAN 3 Malang, Ady Siswanto, S.Pd mengatakan, latar belakang dibentuknya tim MSB ini bermula dari perhatian siswa yang besar terhadap korban bencana alam. Sejak peristiwa meletusnya Gunung Kelud pada tahun 2011 silam, hingga meletus kembali pada tahun 2014, menjadi perhatian warga MAN 3 Malang.
“Siswa begitu semangat membantu mereka. Mulai dari penggalangan dana bantuan, pengumpulan pakaian layak pakai dan sebagainya. Semangat inilah yang menginspirasi kami untuk membentuk kelompok siswa yang siap siaga menanggulagi korban bencana alam," tuturnya.
Para anggota merupakan gabungan dari siswa-siswi yag aktif dalam ekskul Pramuka, PMR, KKR, BDI, dan Paskibra. Selain itu juga ada beberapa siswa dari luar ekskul tersebut.
Ady menjelaskan tugas tim MSB tidak hanya menyikapi bencana, tapi juga berperan untuk mencegah bencana terjadi. Seperti siaga dalam mencegah kebakaran, banjir dan sebagainya.
"Semua materi telah kami ajarkan pada mereka. Termasuk dalam hal mencegah bencana hingga cara mengevakuasi korban dengan kondisi medan yang bermacam-macam," terangnya.
Hari pertama materi yang diajarkan tentang konsepsi, karakteristik dan prinsip dasar penanggulangan bencana. Selain itu ada materi tugas dan kewajiban Medical First Responder (MFR), serta penanganan cidera dan teknik evakuasi. Sementara materi di hari kedua lebih pada praktek. Yaitu praktek MFR, pasang bongkar tenda dan simulasi penanggulangan bencana.
Antsusiasme siswa untuk bergabung dalam tim MSB terbilang cukup besar. Jumlah anggota 150 terbilang jumlah yang besar untuk tim yang pertama kali dibentuk.
“Kami batasi di angka 150 saja, kalau tidak maka yang minat akan lebih dari itu," tambah Ady.
Untuk menjadi anggota ini, lanjutnya, ada dua syarat yang harus dipenuhi. Yakni kemauan dan izin dari orangtua. Sebab tugas mereka bisa saja menempuh jarak yang jauh dan membutuhkan waktu yang lama. "Termasuk izin orangtua kita meminta pertimbangan terkait kondisi fisik anak. Karena untuk jadi anggota, fisik mereka harus sehat, tidak gampang sakit," tukasnya. (imm/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...