Mancal ke Sekolah, Siswa MIN Malang 1 Ditabrak Motor


MALANG - Siswa MIN Malang 1, Hamid Hidayatullah mengayuh sepeda BMX warna kuningnya. Seperti biasa, ia berangkat dari tempat kosnya di jalan Sumbersari sebelum pukul 06.00 WIB. 
Hamid terbiasa berangkat sekolah dengan sepeda pancal satu jam lebih awal. Sebenarnya bisa saja ia berangkat bareng gurunya yang juga jadi bapak kosnya. Tapi, Hamid memilih tak merepotkan sang guru, Solikhin. Anak laki-laki bertubuh mungil itu rutin berangkat pagi, sebab ia ingin membantu membersihkan kelas atau halaman sekolah sebelum jam pelajaran dimulai. Lalu lintas sebenarnya belum terlalu ramai ketika sepeda yang dikayuhnya melintas di depan Matos, pagi hari. Namun dari arah yang sama, sebuah motor yang dikendarai seorang wanita melaju kencang dan menabraknya dari belakang. Bruk, siswa kelas 6 yang beberapa bulan ke depan akan menghadapi Ujian Nasional ini pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Sementara si penabrak melarikan motornya tanpa mau bertanggung jawab.
Beruntung, saat kejadian tersebut, ada salah satu wali murid MIN Malang 1 yang ada di sana. Ia kemudian menghubungi pihak sekolah untuk membawa Hamid menuju ke Rumah Sakit Hermina. Beberapa saat kemudian, kepala sekolah didampingi wali kelas, menyusul Hamid ke rumah sakit.
Sekitar pukul 07.00 WIB, mobil sekolah membawa Hamid menuju Rumah sakit Hermina. Ia kemudian dilarikan ke IGD. Siku kiri Hamid yang kaku dan tidak bisa bergerak, kemudian di terapi sesaat oleh terapis. Hingga kemudian, dokter datang untuk memberikan penanganan.
“Saya dihubungi sekolah jam 07.00 WIB, sekitar jam 10.00 WIB sampai di Malang. Sempat kaget juga, anak saya ini selalu memberi kejutan ke orang tua,” ungkap ibu Hamid, Mufarida yang sehari-hari tinggal di Mojokerto.
Mufarida mengisahkan, anak bungsu dari empat bersaudara itu hidup terpisah dari orang tua sejak ia kelas V, tepatnya di tahun 2015. Ia sengaja pindah sekolah, ia menilai MIN 1 adalah sekolah yang bagus untuknya.
“Jadi sejak kelas IV ia sudah meminta untuk pindah ke Malang. Ke MIN 1. Awalnya saya tidak mengizinkan, tapi karena kemauannya yang keras, akhirnya dengan berat hati saya izinkan,” kata dia.
Mufarida sempat mengatakan kepada Hamid, bagaimana jika ia tanpa orang tua nanti di sana. Tapi Hamid menjawab, ia memang tidak ingin merepotkan orang tua saat ini sedang meraih cita-cita. Mufarida merasa sangat haru mendengar pernyataan anak bungsunya saat itu.
Ia memang anak yang tidak suka merepotkan orang lain, atau bisa dibilang mandiri. Uang saku yang diberikan orang tuanya, ditabung dan sisanya ia kembalikan kepada orang tuanya.
“Saya sempat kaget, saat kali pertama ia mengembalikan sisa uang saku. Ia bilang ini untuk disimpan ayah dan ibu,” kata Sriwidodo, sang ayah bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.
Banyak kisah dan cerita yang membuat kedua orang tua Hamid sangat terharu. Diantaranya, adalah sepatu jebol, yang tidak mau dibelikan. Ia ingin tetap memakai sepatu itu sampai uangnya terkumpul sendiri.
“Iya, cerita itu juga membuat saya terharu, sekaligus sedih. Karena saya ingin membahagiakan anak saya. Tapi dia benar-benar mandiri,” kata Mufarida.
Terkait kasus tabrak lari, orang tua Hamid kompak untuk tak mempermasalahkannya. Mereka hanya berharap putranya segera pulih.  
Di kelas, Hamid adalah anak yang cukup pendiam. Ia anak yang baik, sebab tidak pernah jahil kepada temannya. Wali Kelas VI-E, Endah Sri Hariyanti S.P.d menuturkan, nilai akademiknya pun juga cukup baik. Yang membuat Endah kagum, Hamid adalah anak yang rajin puasa Sunnah, Senin-Kamis.
“Dia rajin puasa sunnah, sampai saya temukan pingsan pun pernah. Karena ia hanya sahur dengan air putih saja, ia tidak ingin merepotkan ibu kos sepertinya” imbuhnya. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :