Ingatkan Bahaya Agama dan Kepentingan Politik


MALANG - Unikama menggelar Dialog Kebangsaan Peringatan Hari Pahlawan menghadirkan empat narasumber lintas keyakinan. Kegiatan ini untuk menggugah generasi muda untuk menghayati nilai-nilai kepahlawanan.
Salah satu pemateri yang juga pendiri Institute for Syriac Christian Studies, Dr. Bambang Noorsena, SH., MA memaparkan, agama berpotensi menjadi alat politik ketika memaksakan agama yang merupakan ranah privat ke dalam ranah umum.
“Tuhan mengatasi konsep Teologi dan Premordial agama, itulah yang dinjunjung tinggi Majapahit yang hasilnya memperkuat nusantara lebih dari Sabang hingga Merauke,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut dia juga mengapresiasi Jokowi yang telah memberikan ruang keberagaman yang luas dengan menyediakan kolom Penghayat Kepercayaan dalam KTP. Menurutnya, manusia tidak menyembah agama namun menyembah Tuhan yang dimuliakan semua agama.
“Tuhan mengatasi batas ras, agama, dan budaya,” imbuhnya.
Dr. Didit Hadi Barianto yang hadir mewakili Min. H. Abdul Bait Shd, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengungkapkan, hari pahlawan dapat sebagai pemaknaan sekaligus tantangan apakah selama ini agama benar-benar telah menciptakan peradaban dan perdamaian.
“6.000 tahun ketika agama belum masuk, orang-orang dikubur dengan damai. Ketika agama menjadi komoditas politik dan kekuasaan, maka perdamaian sudah tidak muncul lagi,” ungkapnya.
Padahal, lanjutnya, kedamaian lintas agama telah ditularkan oleh Soekarno melalui pembangun masjid yang berdekatan dengan gereja. Rasulullah pun juga pernah memberi makan makan orang yang mendzaliminya. Mengisi kemerdekaan, haruslah masyarakat membangun semangat beragama sebagai sarana untuk membangun kedamaian, sehingga kemudian agama memiliki andil dalam membangun peradaban dunia.
Menggagas sebagai kampus multicultural, Unikama berharap mahasiswa berpegang teguh pada nilai kebhinekaan. Secara fisik dan tatanan, mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia harus hidup dalam kebersamaan, namun harus terintegrasi dengan nilai general dan harus dapat menyesuaikan diri.
“Boleh saja mereka membawa nilai lokal, namun harus dapat menyesuaikan diri. Bagaimana mereka bisa terbiasa dengan hidup dalam sebuah masyarakat yang plural, sehingga ketika keluar dari kampus, meraka telah melebur,” kata Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian, M.Si. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :