SMKN 11 Terjunkan Siswa ke Posyandu


MALANG – SMKN 11 Malang meningkatkan keterampilan calon perawat dalam menangani pasien melalui program kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di desa. Kegiatan posyandu ini diadakan setiap minggu di hari Rabu dan Sabtu. Sebelum terjun ke lapangan, mereka akan mendapatkan materi teoritis di kelas.
Salah satu guru, Maulida Pratama Sari mengatakan, kegiatan ini wajib diikuti siswa sebelum prakerin.
“Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dalam satu kelas.Jadi ketika semester 4 jelang prakerin mereka sudah harus siap dikirim ke desa untuk mengikuti kegiatan ini,’ terangnya.
Maulida mengatakan, siswa memang tidak diharuskan menginap, namun mereka tetap harus bisa mengatasi permasalahan ketika di desa.
“Walaupun mereka tidak menginap, tapi mengatasi permasalah di desa ini adalah tantangan bagi mereka. Sebab nanti bukan hanya nilai praktik saja yang akan mereka dapatkan. Tapi juga nilai evaluasi yang akan mereka dapatkan,” terang Maulida.
Misalnya, Maulida menerngkan, disuatu desa banyak balita gizi buruk, siswa harus bisa membuat edukasi berupa penyuluhan agar mereka bisa mengubah gaya hidup. Harus dipaparkan, apa saja penyebab kejadian itu.
“Itu adalah tugas mereka, walau masih belum mahasiswa tapi yang pasti mereka sudah bisa belajar. Itu sebabnya kami, terapkan ini,” bebernya.
Salah satu siswa Devita Ary Maharani mengatakan, ia harus memberikan yang terbaik bagi desa. Tantangan yang ia rasakan, adalah ketika harus memberikan penyuluhan kepada warga desa. Tingkat pendidikan yang rendah, membuatnya harus merancang sebuah materi edukasi yang menarik.
Permasalahan desa yang ia jadikan sebagai obyek praktik adalah banyaknya penyakit polio yang diderita oleh balita.
“Saya ada di desa, yang lebih baik tidak disebutkan namanya. Desa itu banyak sekali balita yang kurus dan terkena polio. Ketika saya dan tim datang, hampir semua dari mereka mengalami itu. Akhirnya kami mecoba memberikan penyuluhan yang pertama, tapi belum berhasil,” cerita dia.
Akhirnya, Devita harus memutar otak, dan akhirnya ia bersama timnya, mengemas penyuluhan dengan sedikit menarik.
Yang paling penting menurutnya adalah bahasa yang digunakan. Awalnya, Maulida melakukan penyuluhan dengan berbahasa Indonesia. Namun pada akhirnya, ia menggunakan bahasa sehari-hari, yakni bahasa Jawa.
“Ketika saya menggunakan bahasa Jawa mereka langsung nyambung, banyak interaksi dan respon,” terangnya. Hasilnya, mereka mampu melakukan apa yang sudah diajarkan. Walaupun peningkatan tidak signifikan, tapi mereka sudah bisa mempraktikkan.
Devita mengaku sangat berkesan dengan pengalamannya itu. Ia pun mendapatkan keterampilan bagaimana menghadapi pasien yang mempunyai berbagai macam karakter yang harus dilayani. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :