Bedah Buku Cerpen Aloer-Aloer Merah, Wadahi Sejarah dalam Karya Sastra


MALANG - Buku kumpulan cerpen Aloer-Aloer merah karya Ardi Wina Saputra kembali dibedah. Bedah cerpen Aloer-aloer merah kali ketiga ini dikemas dengan konsep santai di Cafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM). Sebagai pembedah adalah sejarawan UM, Joe Pradana.
Menurut Joe, Ardi Wina Saputra menulis cerpen-cerpen berbasis sejarah lokal Malang dan sekitarnya dengan bahasa sastra, menarik baginya. Sebab, tidak banyak, penulis yang mengangkat tema sejarah dengan bahasa sastrais yang sedikit puitis.
"Cerpen sejarah yang kemasannya romantis. Kata-katanya sungguh memunculkan imajinasi,"kata Joe.
Ia menyontohkan,misalnya kata-kata pesawat, yang dalam cerpen ini digambarkan dengan sangat deskriptif, yang menurutnya sangat cocok dinikmati bagi pembaca yang imajinatif.
"Saya tertarik, misalnya alur yang menceritakan pesawat, Ardi mendeskrispsikan sebagai burung besi yang kuat dan terbang sangat tinggi," kata Joe.
Joe juga senang, hasil riset Ardi yang mendalam mampu membuat cerpen-cerpen dalam buku Aloer Merah tampak nyata dan literer. Bukan sebatas imajiner biasa, namun juga banyak memaparkan fakta.
Joe juga mengacungi jempol ketegesan penulis dalam menyampaikan pesan cerita yang gamblang. Dan hal tersebut tidak mengurangi muatan estetik cerita.
"Dalam cerita tersebut, kisah sejarah yang ditampilkan sangat jelas. Pada Cerita dengan judul yang terloepa, Ardi menceritkan tentang sejarah ketika Belanda datang ke Malang dan tidak banyak yang tahu, jika gedung sekolah Cor Jesu pernah dibom sebelumnya. Disitu ia mengorek habis sejarah dari narasumber, dan ia berhasil mengemasnya dengan indah," jelas Joe.
Menurutnya, disitulah fungsi karya sejarah yang sastrais terbentuk. Karya sastra sebagai wadah sejarah tertuang di buku aloer-aloer merah. Sebab, banyak keterangan narasumber yang ia gali secara mendalam. "Dari biarawati suster tua misalnya, yang bisa memberikan keterangan sangat dalam. Ia berhasil menguak secara detail itu bagus,"tukasnya.
Menurutnya, bagian itu sangat menarik. Sisi sejarah sangat kental. Sebab gedung sekolah sampai sekarang masih ada dan terjaga dengan baik.
"Kalau cerita itu bisa diteruskan, tidak ada salahnya terus mengembangkan imajinasi dari sejarah yang masih ada sekarang. Masyarakat pasti akan penasaran, dan cerita itu bisa terus dikembangkan lagi,"pesan dia. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...