Awas Salah Tulis Ijazah Siswa

MALANG – Meski setiap tahun sekolah rutin menuliskan ijazah kelulusan bagi siswanya, namun selalu terdapat perbedaan blanko dan kadang perubahan peraturan. Meminimalisir terjadinya kesalahan, kemarin (31/7), Dindik Kota Malang mengadakan sosialisasi penulisan ijazah bagi seluruh Kepala Sekolah negeri dan swasta di Kota Malang. 
Kasi Kesiswaan dan Kelembagaan Bidang Pembinaan SD Dindik Kota Malang, Dyah Christiana W mengatakan pentingnya sosialisasi untuk diikuti oleh kepala sekolah dan penulis ijazah yang telah mendapat SK dari kepala sekolah. Meskipun harus dilakukan dalam waktu yang bergantian per kecamatan, karena keterbatasan ruangan. Dalam sosialisasi ini, salah satu yang ditekankan pada penulisan ijazah SD adalah kesesuaian dengan akta kelahiran.
”Akta kelahiran sendiri sudah bisa diperoleh dalam waktu proses satu hari, jadi jangan khawatir anak tidak punya akta,” ujar Dyah.
Dalam penulisan ijazah, lanjut Dyah, tidak boleh menggunakan huruf-huruf variasi dan ditekankan pada kejelasan penulisan. Seluruh siswa SD di Kota Malang dijadwalkan akan menerima ijazah paling lambat dua minggu sejak tanggal sosialisasi. Meski begitu, Dyah memberikan penekanan pada kebenaran isi ijazah.
”Kalau perlu dicoba dulu satu persatu lalu diserahkan kepada siswa untuk dicek, sudah benar tidak,” imbuhnya.
Di jenjang SD tahun ajaran 2016/2017 ini, terdapat tiga jenis ijazah yakni ijazah kurikulum 2006, ijazah Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan ijazah kurikulum 2013. Ketiganya dapat dibedakan dengan kode di dalam ijazah. Yang menjadi penting adalah para kepala sekolah tidak boleh mencoret ijazah, menimpa huruf, dan menghapus dengan tipe-X. Kesalahan penulisan harus diatasi dengan penggantian blanko ijazah yang baru.  
Sementara itu, disampaikan oleh Pengawas SD Kecamatan Blimbing, Didik Siswanto, terdapat beberapa poin penekanan yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah dan penulis ijazah, salah satunya cek dan ricek kembali.
”Tulis draftnya dulu dengan menggunakan pensil, kemudian tunjukkan ke wali kelas dan kepala sekolah untuk dicek lagi kebenarannya. Untuk nama, acuannya ke akta kelahiran,” kata Didik.
Selain penulisan, ketelitian juga diperlukan untuk cap tiga jari yang tidak boleh sampai mengenai foto wajah siswa karena akan dianggap rusak, serta memperhatikan benar-benar stempel yang digunakan.
”Dicoba dulu stempelnya, karena pernah kejadian salah stempel. Jangan sampai yang digunakan malah stempel komite sekolah atau stempel yayasan,” imbuhnya.
Ditambah, sebelum pembagian ijazah, orang tua siswa perlu membuat surat pernyataan bertanda tangan yang menyatakan apabila nama dan nilai yang tertera di ijazah anak, telah benar.
”Ini mencegah ada yang protes di kemudian hari,” imbuhnya. (mg19/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :