Akun Medsos Siswa SMAN 3 dalam Pengawasan Guru

MALANG – Untuk mengatasi bullying atau cyber bullying terjadi di antara siswanya, Kesiswaan SMAN 3 Malang ternyata diam-diam mengamati akun sosial media milik siswanya. Dengan menjalin pertemanan dengan siswa, sekolah dapat mengetahui setidaknya karakter atau apa yang sedang terjadi pada siswa melalui status yang mereka posting.
”Secara pribadi juga guru-guru sering melakukan pengamatan, misalnya searching di youtube tentang apa saja yang siswa posting, kesukaan mereka, dan penting juga membuka telinga lebar-lebar pada keadaan yang sedang terjadi pada siswa,” ungkap Waka Kesiswaan SMAN 3 Malang, Wawan Pramunadi.
Selain berteman di media sosial, kedekatan antara guru dengan siswa dapat menjadi cara ampuh deteksi dini permasalah di kalangan siswa. Dengan menjadi dekat, siswa akan leluasa bercerita sehingga berbagai masalah dapat segera dicari jalan keluarnya. Selain itu, upaya preventif yang dilakukan meliputi sosialisasi efek negatif bullying, dan pengenalan sekolah aman pada saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa waktu yang lalu.
”Alhamdulillah disini tidak ada bullying , mungkin karena upaya preventif kita berhasil. Tidak ada yang membedakan teman karena perbedaan status ekonomi atau sosial. Semuanya sama dan rukun, termasuk anak-anak ADEM. Kalaupun terjadi, nantinya harus segera dicarikan solusi sehingga pelaku bullying sadar, dan korban tidak mengalami masalah yang berlarut,” lanjut Wawan.
ADEM adalah program pemerintah untuk mengirimkan anak-anak Papua bersekolah di sejumlah kota. Di Malang, beberapa sekolah menjadi tuan rumah untuk siswa ADEM ini.
Meski beberapa waktu yang lalu sempat terjadi pergolakan di sosial media siswa terkait turunnya isu agama dan politik yang santer terjadi di Jakarta dan menjadi isu nasional, namun berkat respon cepat sekolah, permasalahan tersebut cepat diatasi.
Di SMAN 7 Malang, pencegahan terjadinya bullying yang biasanya dilakukan pada saat kelas kosong, dilakukan dengan menyiagakan guru piket. Guru tersebut akan mengisi kelas yang tidak diisi guru pengajar karena tugas luar sekolah. Dengan sistem pengajaran menggunakan Unit Kerja Belajar Mandiri (UKBM), guru piket tidak akan merasa kesulitan berjaga di kelas kosong karena peljaran yang akan didapat siswa telah terancang sistematis dalam UKBM.
”Dengan mencegah jam kosong tanpa guru di kelas, itu berarti kami mencegah bullying dan hal-hal yang tidak diinginkan yang terjadi karena tidak adanya pengawasan guru. Pembinaan wali kelas juga penting,” ungkap Waka Kurikulum SMAN 7 Malang, Laili Iyana.
Setiap Senin setelah upacara bendera, wali kelas dijadwalkan masuk ke kelas untuk memberikan pembinaan terkait dengan akademik dan yang lainnya. Pada saat itulah, materi pendidikan karakter, termasuk bullying, disampaikan. Terlebih pada saat MPLS beberapa waktu yang lalu, siswa telah disisipkan arahan untuk saling menjaga pergaulan di lingkungan belajar. (mg19/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...