Pelajar SD/SMP Kota Malang Sukses Raih Juara

 
MALANG - Pelajar Kota Malang membuktikan kemampuannya di ajang Malang Post School Competition (MSC) 2017. Dari 12 bidang lomba, mereka berhasil merebut piala juara. MSC 2017 yang didukung Dinas Pendidikan Kota Malang menjadi ajang lomba paling kompetitif memertemukan pelajar se Malang Raya. 
Salah satu sekolah yang sukses menjadi juara dalah tim paduan suara SMPN 3 Malang, Spenti Teenage Choir. Sukses menjadi juara 3 Choir Competition MSC 2017. Istimewanya lagi, pada kompetisi ini, mayoritas pesertanya adalah siswa SMA. 
Koordinator tim choir SMPN 3 Nila Fanahda Ariza mengatakan, ajang kompetisi kali ini menurutnya sangat kompetitif. Ia menilai lawannya memiliki karakteristik yang bisa menarik perhatian juri dan juga penonton.
"Tidak hanya MSC dan suasananya yang keren, kami sebagai tim choir SMP juga semakin bersemangat karena bersaing dengan siswa SMA," kata dia.
Banyaknya peserta, juri yang profesional serta megahnya panggung MSC menjadi hal spesial dalam choir competition MSC 2017. Tampil memukau dengan pakaian adat aceh, tim Spenti Teenanger Choir menyanyikan lagu andalannya tarekpukat. Lagu daerah dari aceh ini dibawakan dengan sangat apik, diiringi tarian saman yang menampakkan kekompakan mereka.
“Tidak ada perbedaan kategori ini sama sekali nggak berpengaruh bagi kami, soalnya latihan tetap harus tekun dan keras, persiapan tetap harus matang, siapapun saingannya,” ujarnya.
Menurut dia, semua peserta tampil bagus. Banyak juga mereka yang bisa memberikan penampilan terbaiknya. Spenti Teenage Choir pernah meraih medali silver di Brawijaya Choir Festival se-Jawa Bali.
Tim Choir ini mempunyai 50 anggota, mereka melakukan latihan rutin setiap dua minggu sekali sepulang sekolah. Biasanya, menjelang lomba, intensitas latihan ditambah. Tak heran, pada malam kemarin, SMPN 3 Malang tampil luar biasa. 
Prestasi lainnya dipersembahkan SMPN 5 Malang yang meraih harapan 3 lomba Mading 3D. Para siswa menyiapkan lomba ini dengan penuh semangat. Bahkan, mereka melakukan  survey sebelum membuat mading.
Tema yang mereka buat untuk mengikuti mading, adalah tentang mitos dan mistis. mereka melakukan survey selama dua minggu, hasil survey mereka tampilkan dalam mading.
Mading tersebut menonjolkan pohon besar yang biasanya digunakan sebagai sesajen. Budaya sesajen ini mereka tonjolkan kembali untuk memberikan lagi kesan tentang budaya mistis tersebut.
Selain itu, madingnya juga ditonjolkan taburan bunga kantil dan melati yang digunakan sebagai alas. Alas yang digunakan adalah alas dari bunga yang dikeringkan.
"Yang kami paparkan tentang cerita horor atau mistis. Karena memang cerita seperti ini, yang paling digemari oleh anak-anak. Kenapa kami mengangkat horor, karena kami ingin memberikan kesan berani," kata Muhammad Bintang Rayhan, siswa kelas VIII SMPN 5.
Budaya mistis menurut dia juga budaya yang perlu dilestarikan. Ia ingin memberikan pandangan kepada masyarakat, jika budaya mistis juga sebenarnya ada. (sin/adv/oci)

Berita Lainnya :