Pakar UB Beberkan Energi Supranatural Batu Mulia

 
MALANG – Komoditas batu mulia yang sempat melejit di tahun 2014 hingga 2015 lalu ternyata memiliki sejarah panjang, tak hanya sebagai hiasan. Batu mulia menjadi salah satu komoditas penting dalam peradaban dua kerajaan besar nusantara, yakni Singosari dan Majapahit. Dalam sejarah keduanya, batu mulia terpasang di mahkota para raja-raja.
“Batu mulai memang sempat melejit beberapa waktu yang lalu, namun para pedagang hanya memanfaatkannya tanpa mengerti batu mulia secara ilmiah, tanpa kajian sejarahnya,” ujar Sekjen Ikatan Cendekiawan Kraton Indonesia (ICKN) Pangeran Nata Adiguna masud Thoyib Jayakarta Adiningrat dalam acara FGD di UB, Kamis (16/11).
Padahal, lanjutnya, batu mulia merupakan sesuatu yang hebat dalam peradaban. Batu mulia tak hanya memiliki keindahan visual namun juga memiliki energi supranatural dan daya tarik tersendiri. Namun faktanya, banyak penjual yang tidak paham benar pentingnya batu mulia. Tidak adanya sertifikasi pada komoditas asli menjadikan banyak batu mulia palsu beredar di masyarakat.
“Akhirnya batu mulia yang asli pun juga harus dijual murah, karena dibandingkan dengan batu imitasi yang banyak dijual orang. Kita harus berguru pada Thailand yang meskipun batu mulianya habis, namun masih berjaya karena dilengkapi dengan sertifikasi,” sambungnya.
Peran akademisi terutama perguruan tinggi, lanjutnya, sangat penting terutama dalam perlindungan batu mulia, salah satunya melalui edukasi. Untuk itu, pihaknya sangat mengapresiasi langkah Universitas Brawijaya dalam Pusat Studi Peradaban LPPM untuk menggiatkan forum komunikasi batu mulai yang diadakan kemarin (16/11).
Bertema ‘Geliat Batu Mulai Nusantara Berawal dari Keluhuran Singhasari dan Kejayaan Majapahit,” forum diskusi melibatkan para pakar untuk mengangkat batu mulai sebagai salah satu peninggalan sejarah. 
“Kami paparkan batu mulai dari sisi sejarahnya dan keilmuannya dari para pakar akademisi dan gemologist, juga untuk membangun sebuah ekonomi kreatif yang direfleksikan dengan kejayaan batu mulia di masa lalu,” ujar Ketua Pelaksana, Wing Setiawan.
Menurutnya, Indonesia memiliki keberagaman batu mulia. Batu mulai diharapkan tak hanya dimanfaatkan sebagai cindera mata, tapi komoditas berharga seperti yang ada di Thailand dan Sri Lanka. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...