Tanding di Cabor Kempo, Mahasiswa Unidha Raih Medali Emas


MALANG - Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) XV di Makassar, Sulawesi Selatan, 14-21 Oktober 2017 mencatatkan prestasi bagi Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang. Lyoba Seila Perada Usen, mahasiswa jurusan Hukum Unidha sukses meraih emas di Cabang Olahraga Kempo mengalahkan 20 finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pesta olahraga antarmahasiswa ke-15 ini resmi dibuka di Gedung Olahraga Universitas Hasanuddin, Kota Makassar. Pembukaan ditandai dengan penyalaan obor oleh 2 atlet berprestasi Sulsel. Selain itu disuguhkan tarian adat Bugis-Makassar dan kolaborasi tarian adat nasional menghibur para kontingen. Ajang akbar yang dipelopori badan pembina olahraga mahasiswa ini dilaksanakan setiap dua tahun.  
Pomnas XV 2017 mempertandingkan 14 cabang resmi dan dua eksibisi, yakni sepak takraw, atletik, bola basket, voli indoor, bulutangkis, catur, futsal, karate, kempo, pencak silat, petanqu, renang, tarung derajat, tenis lapangan. Untuk cabang olahraga eksibishi, yakni gateball dan selam. Kedua cabang itu diharapkan sudah bisa dipertandingan secara resmi pada pelaksanaan Pomnas XVI 2019. Kegiatan ini dilaksanakan agar mahasiswa dapat membuat prestasi olahraga nasional lebih baik.
Lyoba Seila Perada Usen, atau yang akrab disapa Seila adalah salah satu mahasiswa yang berkompetisi di ajang tersebut. Prestasi yang didapatkannya tentu dipersiapkan matang. Selain strategi yang sengaja dipakainya agar bisa tetap bertahan dan menjadi juara. Jarang Menyerang agar tidak kebobolan, begitu diucapkan mahasiswi asal Flores Timur, NTT itu ketika ditanya kunci keberhasilannya. Menurutnya, teknik ini membuatnya aman karena lebih banyak bertahan.
 "Karena kalau banyak menyerang, biasanya malah sering kebobolan. Jadi lebih banyak menunggu lawan menyerang, baru saya serang balik," kata gadis manis ini.
Ia mewakili Jatim di babak final mengalahkan lawannya dari Bali. Lawan dari Bali yang mempunyai postur tubuh lebih tinggi darinya itu membuatnya sempat kelimpungan, dalam membuat pertahanan. Sebab, gerak-gerik lawan yang susah dibaca olehnya.
"Karena postur tubuhnya tidak sama, jadi saya agak kewalahan untuk membuat pertahanan. Karena saya harus menengokkan kepala ke atas untuk mengamati gerak gerik. Itu membuat saya sedikit kesulitan membaca serangan," kata dia.
Gadis berambut panjang itu juga lebih sering menyerang menggunakan kaki kanan karena lebih cepat dan tepat.
"Kempo ini poinnya didapat dari tendangan, jadi tendangan harus bisa jadi senjata. Tapi sulitnya jika mendapat lawan yang lebih pendek, karena kadang takut saat menendang bisa mengenai wajah mereka," ungkap Seila, panggilan akrabnya.
Seila sudah menekuni olahraga kempo sejak duduk di bangku SD. Sejak SD, ia sudah ikut berkompetisi dan sering meraih juara. Prestasinya itu tidak lepas dari keseriusannya berlatih. Ia berusaha untuk terus berlatih meski di luar jam latihan, selama bisa tetap membagi waktu dengan kuliah.
"Selalu diusahakan tambah jam latihan di kamar kos. Setidaknya hanya untuk push up atau sit up yang penting sudah membantu menjaga kondisi," kata dia.
Ia juga mengajar 20 mahasiswa Unidha yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kempo. Saat ini, Seila terus berlatih untuk persiapan pra PON dan PON 2020. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :