Gelar AICIC, UMM Siap Serukan Islam Damai


MALANG –  Di dunia internasional saat ini, Islam masih sering salah dipahami sebagai bagian dari kelompok radikasilme tertentu, dan menimbulkan fenomena islamophobia. Diperlukan berbagai upaya, salah satunya dari perguruan tinggi untuk menyuarakan pemahaman islam secara benar. Untuk itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Annual International Conference on Islam Civilization (AICIC), dihadiri berbagai tokoh dari beberapa negara untuk berkontribusi pada peradaban Islam.
Rektor UMM, Drs. H. Fauzan, M.Pd, saat ini perguruan tinggi masih belum mengambil peran dalam pemahaman islam ke dalam dunia internasional.
“Sehingga apabila terdapat pemahaman yang keliru mengenai islam, yang mengcounter  tidak hanya dari personal ke personal, namun institusi perguruan tinggi harus berperan,” ujarnya saat ditemui pada pembukaan AICIC .
Direktur Centre for Arab and Islamic Studies, The Australian National University (ANU) Amin Saikal, bertindak sebagai pembicara dalam kegiatan ini menyampaikan pidato bertajuk How Islamic has ‘Islamic State’ been?’. Dalam Islamic state, berperan mengajak orang untuk tahu lebih banyak dalam konsep Islam yang lebih luas.
Akselerasi arus global dalam pengetahuan secara tidak langsung berdampak pada tatanan politik, sosial, dan agama, dan salah satunya terjadi di negara Indonesia. Saat ini, Indonesia dihadapkan pada polemik baru, dimana ada banyak orang memiliki sikap mudah memvonis pihak lain dan mudah terhasut provokasi.
“Islam yang lembut dan toleran, kini berganti dengan wajah muram. Tindakan demikian mengedepankan kekerasan dan permusushan, dan bentuk ekstrimnya yakni terorisme,” ungkap Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin.
Untuk itu, lanjutnya, karakter keagamaan harus berbasis pada nilai keberagaman, sehingga akan membuka itikad dialogis dalam pencarian solusi berbagai permasalahan. Moralitas harus menjadi yang diutamakan, karena tidak ada dalam ajaran agama untuk menyelesaikan konflik dengan kekerasan.
“Sehingga dalam hal ini, diperlukan penyegaran sikap termasuk dari masyakarat, salah satunya perguruan tinggi. Dalam pendidikan, diperlukan perluasan pendidikan agama, kewarganegaraan dan pancasila melalui pengaitan dengan isu-isu yang dekat dengan masyarakat,” sambungnya. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...