magista scarpe da calcio UIN Maliki Siapkan Fatwa untuk Penelitian Mahasiswa


UIN Maliki Siapkan Fatwa untuk Penelitian Mahasiswa


MALANG - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki) mempunyai pusat kajian Fatwa baru yang baru di launching. Pusat kajian Fatwa ini diberi nama Majma 'Al Buhuts Wa Al Ifta (MBI). Pusat kajian ini berfungsi untuk mewadahi pemikiran-pemikiran atau kajian-kajian ilmiah dari mahasiswa. Pusat Kajian Fatwa ini adalah yang pertama, yang dimiliki oleh PTKIN.
Lembaga kajian tersebut dibuka oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenristek Dikti, Prof. Dr. Kamaruddin Amin. Ia mengatakan, ini adalah pusat kajian fatwa pertama yang dimiliki PTKIN di Indonesia.
"Saya ingin, PTKIN lainnya agar mendirikan hal yang sama seperti ini. Saya senang, UIN Malang berkontribusi untuk bangsa dan negara. Meningkatkan daya saing bangsa melalui lembaga penelitian atau pusat kajian ini, UIN Malang telah membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh umat manusia," kata Kamaruddin.
Ia mengharapkan, melalui pusat kajian ini, UIN Maliki bisa seperti Al Azhar, yang sudah terlebih dahulu mempunyai lembaga yang sama fungsinya,yakni mengeluarkan fatwa.
Sementara itu, penggagas ide ini sekaligus rektor UIN Maliki Prof Dr Abdul Haris, M.Ag membeberkan, fungsi lembaga kajian ini adalah untuk memberikan wadah kepada mahasiswa yang berhasil membuat produk atau hasil teknologi yang ditemukan oleh mahasiswa yang dibimbing oleh dosen.
Produk hasil penelitian yang tentu saja bermanfaat bagi masyarakat dengan landasan keislaman ini disimpan di sini.
Nantinya, Lanjut Haris, Lembaga pusat kajian ini akan menggandeng para ulama dari pesantren, para pakar dari berbagai disiplin ilmu, serta bila ada tokoh agama atau nasional yang berkunjung ke UIN, juga akan diajak berdiskusi dan berdialog.
Akan ada dua kemungkinan ketika produk hasil penelitian sudah dikaji di sini, yakni dipatenkan, dan dikeluarkannya fatwa. Fatwa ini dikeluarkam berdasarkan dari hasil kajian produk dengan para ahli dan ulama.
Ia mengatakan, lembaga kajian ini Hampir menyerupai Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakt (LPPM). Bedanya, pusat kajian ini khusus mewadahi mahasiswa yang ingin mengembangkan riset untuk dikaji manfaatnya.
"MBI akan dijadikan sebagai Pusat kajian dan riset keislaman, ini bisa digunakan berbagai jenis ilmu, atau multidisiplin, jadi mahasiswa bisa berdiskusi dengan para tokoh dan pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk menginformasikan kajian hasil temuan dengan hukum islam," kata dia.
Untuk saat ini, Haris mengatakan, sudah ada tiga produk terpilih yang disimpan, dan sudah melalui pengkajian ilmiah dan keislaman, yakni, hidung elektronik, uji halal elektronik  digitalisasi ilmuwan muslim, dan ‎halal kantin. Seluruhnya adalah produk IT hasil penelitian yang didesain manfaatnya untuk masyarakat.
Ia membeberkan, misi dari lembaga pusat kajian ini adalah sebagai upaya perguruan tinggi harus memberikan solutif terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang