Mengenal Creative National Crew SMK Nasional


MALANG - CREATIVE National Crew (CNC) adalah perkumpulan peminat majalah dinding yang ada di SMK Nasional. CNC, masih menjadi perkumpulan, sebab masih belum mempunyai cukup peminat. Namun, pihak sekolah ingin agar suatu saat CNC menjadi ekstrakurikuler. Sebab, perkumpulan ini dianggap berpotensi untuk membantu mewadahi kreativitas siswa.
Ayu Nina Desita, salah satu pembimbing mengatakan, untuk mewujudkan CNC menjadi ekstrakurikuler, tidak mudah. Membutuhkan komitmen yang kuat kepada lembaga dan yayasan, sebab harus ada legalitas dan fasilitas yang nantinya akan mendukung kinerja pengurus ekstra.
“Kalau ingin menjadi ekstrakurikuler, kami harus mempunyai komitmen yang kuat. Pengurus dan anggota harus bisa mengoptimalkan kerja mereka. Harus solid, karena kan pasti akan mempunyai jabatan structural, serta tentunya legalitas lembaga,” kata Nina.
Untuk menuju ke legalitas lembaga, Sejak bergabung di CNC dan dipercaya menjadi pembimbing, ia pun mulai mencoba memberikan kecintaan siswanya terhadap majalah dinding. Untuk itu, ia melakukan dari perspektif Bahasa Indonesia.
“Mading identik dengan tulisan-tulisan. Pada dasarnya memang madding adalah seputar tulisan-tulisan. Jadi saya memotivasi siswa saya untuk membudayakan menulis di setiap pelajaran saya. Dari sinilah, saya selalu mengajak mereka membuat madding dengan isi dan bobot tulisan yang juga dikompetisikan,” kata dia.
Nina selalu menyelipkan kegiatan menulis bagi siswanya, walaupun ketika kompetensi dasar yang diajarkan bukan soal menulis. Kegiatan menulis yang ia berikan misalnya menulis cerpen, menulis ilmiah, atau karya sastra. Setelah itu, hasil karya siswanya harus dikembangkan dan dijadikan tema mading sekolah.
Dari situ, ia menemukan banyak siswa yang menurutnya mempunyai kualitas tulisan bagus, pemikiran kritis dan kreatif, serta ide-ide yang menurutnya sangat menarik. Dari ide tersebut, ia mewajibkan setiap tulisan dipamerkan di madding sekolah. Tapi mereka tidak percaya diri. Ketika mengatakan mereka harus konsisten menulis kemudian dikirimkan respons mereka hanya datar saja, ada yang bilang menulis hanya musim-musiman. Atas dasar itu kadang ia kirimkan karya siswa secara diam-diam.
Setelah ia mengirimkan hasil karya, walaupun karya tulisan kalah atau menang, Nina mewajibkan mereka untuk membuat visual, untuk pengembangan Mading secara 3D. Untuk karya visual, ia berkoordinasi dengan pembimbing yang berasal dari guru seni rupa.
Bukan hanya mengirimkan hasil karya siswa secara diam-diam saja yang ia lakukan, siswanya juiga diajak untuk mengikuti kompetisi lomba Mading. Sejak tiga tahun lalu bergabung di SMKN Nasional, Nina telah berhasil menghantarkan sekolahnya meraih dua kali juara.
“Pertama mereka dulu juara 1 di HUT Kota Batu lomba Mading se Malang Raya, lalu di acara Malang Post School Competition (MSC). Walaupun saya baru bisa menghantarkan dua juara dan baru tiga tahun, tapi saya akan berupaya untuk membuat siswa mencintai dunia mading,” tukasnya.
Bahkan, lanjut dia, ketika menghadapi kompetisi MSC, ia menugaskan anggota madding yang ikut berkompetisi untuk melakukan totalitas. Hal yang belum pernah dilakukan siswanya, yakni menjadi seorang wartawan yang turun lapang. “ Karena salah satu syarat kompetisi adalah membuat tulisan jurnalistik. Saya menugaskan mereka membuat tulisan jurnalistik, yang sesungguhnya. Bukan melansir berita, bukan berita dari lingkungan sekolah, tapi dari Kota Malang langsung. Hal yang belum pernah mereka lakukan, adalah mewawancara kepala dinas yakni kepala Dispora dan kepala dinas pendidikan,” kata Nina.
Alhasil, Nina mengungkapkan, siswanya bisa membuat hasil karya yang menurutnya bagus dan menarik untuk ditampilkan pada rubrik mading yang dikompetisikan. Nina berharap dengan prestasi, serta komitmen yang sudah mulai ia bentuk bisa membuat CNC menjadi ekstrakurikuler. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...