SMKN 7 Malang Juara di Miss Ori Tingkat Nasional


MALANG - Jurusan Tata Busana SMKN 7 Malang mempunyai misi terus berkarya dan berkreasi di luar akademik siswa. Skill siswa ditempa sebaik mungkin untuk mewujudkan misi jurusan ini yakni menciptakan karya berkualitas berdasarkan kreativitas.
Laboran jurusan Tata Busana sekaligus guru pembimbing, Azizah Rahmawati mengatakan, menciptakan sebuah karya kreativitas bukan hal yang mudah, perlu ditumbuhkan melalui pemikiran yang dibumbui dengan olah rasa, sebab tata busana sebagian dari seni.
Berkat diasahnya selalu kreativitas dalam berkarya, SMKN 7 Malang berhasil meraih prestasi dalam ajang Miss Ori tingkat nasional, yang diadakan oleh Original Rekor Indonesia, yang merupakan lembaga wadah prestasi ide kreatif anak bangsa yang diadakan di Jakarta, (7/11/17). Dua karya siswa SMKN 7 Malang berhasil meraih Juara 1 daur ulang dan Juara 1 batik kreasi.
Pakaian yang mendapatkan juara 1 daur ulang terbuat dari tempat telur dan plastic bekas berwarna biru. Dua bahan dasar tersebut diolah menjadi gaun mewah bertema lautan.  Tempat telur bekas dikumpulkan oleh siswa, begitu juga kantong plastic berwarna biru. Proses pembuatannya tidak lama, hanya memakan waktu satu minggu.
Tema lautan sangat nampak pada gaun berwarna biru muda tersebut. Tempat telur bekas yang bertekstur gelombang, disulap seolah menjadi gelombang ombak lautan, dan warna biru adalah lautan luas yang nampak dari kejauhan.
“Kami membuat dua lapis. Pertama kresek warna biru kami jadikan dasar, kemudian disela-sela kami buat gelombang lautan dari tempat telor,” kata Azizah.
Gaun tersebut juga dihiasi dengan tumbuhan laut dibawah gaun, sebagai aksen tambahan yang terbuat dari plastic kresek bekas berwarna merah, dan kresek putih yang diberi warna hijau.
Ia menumbuhkan pemikiran kreatifitas siswa melalui laboratorium tata busana dan terciptalah gaun megah dari bahan bekas. Ketika di laboratorium, Azizah memanfaatkan waktu dengan melakukan dialog dengan siswa.
Darisitulah, ia mendapatkan kesempatan untuk mengajak siswanya menciptakan karya-karya baru.
“Walaupun tidak dilombakan, setidaknya mereka sudah bisa membuat ide kreatif. Memang ide kreatif tidak dipaksakan, namun, harus diciptakan,” kata Azizah.
Pekerjaan sebagai laboran yang ia jalani sejak 3 tahun bukan hanya sekadar menjaga laboratorium dan mengawasi jalannya aktivitas lab. Namun, ia membuka kesempatan kepada siswa jika ingin memanfaatkan laboratorium untuk menciptakan kreativitas.
“Kegiatan membuat karya busana sederhana saya terima jika siswa ingin bersama saya belajar di sini,” kata Azizah.
Ia yang juga merupakan alumni SMKN 7 itu tidak kehilangan jiwanya untuk berkarya, walaupun tidak mengajar sebagai guru. Menurutnya, menjadi laboran juga bisa menciptakan karya, melalui diskusi dengan siswa di laboratorium tidak jarang ide muncul.
Dengan prestasi ini, ia berharap, nantinya akan ada lagi karya-karya busana baru yang bisa dikompetisikan dan meraih prestasi. Ia berharap laboratorium ini bisa menjadi tempat berbagi ide dan pengalaman.
Lissa Bella, salah satu siswa yang berhasil mendapatkan emas dengan gaun daur ulangnya pun mengaku adanya laboatorium Tata busana ini bisa menjadi alternative tempat untuk mencari inspirasi ketika ia ingin membuat busana, baik untuk tugas sekolah, ataupun untuk kebutuhan lainnya. Misalnya kompetisi dan kebutuhan pribadinya.
“Banyak hal yang bisa dilakukan di lab ini, walau hanya sekadar sharing, atau bahkan membuat karya desain,” kata Bella.
Ia juga berharap, bisa membuat karya inovatif lainnya. Menurutnya, sebagai calon desainer ia harus mampu menciptakan karya-karya inovatif. Akan lebih baik, lanjut Bella bukan hanya inovatif, tapi juga unik. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :