Padukan Wirausaha dan Globalisasi, Siswa Buka Toko Online di Instagram


MALANG - AKHIR pekan lalu, MIN 1 Kota Malang menggelar pameran dan wirausaha  dalam rangka puncak tema di akhir semester ganjil. Kali ini siswa kelas 6 yang mendapatkan tugas berjualan aneka produk. Ada yang menjual aksesories dan juga makanan. Sebanyak 37 stand dibuka dalam kegiatan tersebut. Acara diawali dengan senam irama secara massal oleh  guru dan siswa MIN 1 Kota Malang .
Kordinator acara, Didin Triharjani menjelaskan kegiatan puncak tema merupakan puncak dari pelaksanaan lima tema dalam satu semester. Antara lain tema tentang lingkungan hidup, perbedaan dalam persatuan, penemu dan penemuannya, globalisasi  dan wirausaha.
“Karena kurikulum 13 menerapkan sistem pembelajaran tematik, maka menjelang pelaksanaan ujian biasanya kita gelar kegiatan puncak tema,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, MIN 1 Kota Malang melatih peserta didiknya untuk kreatif dan belajar berwirausaha mulai sejak dini. Apalagi di era global seperti saat ini, dimana pelaku usaha dituntut untuk kreatif agar bisa bersaing.  Media digital menjadi salah satu sarana untuk menjalankan usaha bisnis mereka.
Maka, di puncak tema kali ini, guru MIN 1 Kota Malang mencoba memadukan antara kewirausahaan dan globalisasi. Didin menerangkan, perpaduan dua tema tersebut yaitu dengan menerapkan jual beli berbasis online.   
“Jadi anak-anak membuka toko mereka di media sosial seperti instagram yang mereka miliki,” terangnya.
Barang yang dijual dan dipamerkan adalah karya yang dihasilkan selama satu semester. Kebanyakan hasil keterampilan siswa berupa aneka kreasi tusuk dengan menggunakan metode tusuk dasar, jelujur, tikam jejak dan lain sebagainya. Selain itu ada juga beberapa karya hasil dari kreasi batik, anyaman dan daur ulang.
“Semuanya bagus dan lucu-lucu. Karya anak ini merupakan hasil binaan guru dari materi seni budaya dan pra karya,” tutur Didin.
Lebih dari sekadar berdagang, dalam even ini siswa juga diajarkan cara melakukan transaksi jual beli yang baik dan benar menurut ajaran Islam.
“Terutama masalah hukum halal dan haramnya. Karena kita harus berupaya bagaimana kegiatan ini dapat terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain. Kalau dengan materi agama, ada mata pelajaran fikih yang menjelaskan tentang hukum dan tata cara jual beli,” jelasnya.  
Menariknya lagi, tidak sedikit siswa yang mendapat keuntungan besar dalam kegiatan ini. Seperti diungkapkan Zaskia dari kelas VI-i. Produk Mie Lumero yang ia jual ludes diserbu pembeli. Dari modal Rp 200 ribu, ia bisa mengantongi omzet Rp 450 ribu.
“Semua teman di kelompok saya bisa untung, dan Alhamdulillah barang yang dijual juga ludes,” ungkapnya. (imm/sir/oci)

Berita Lainnya :