Modal Rp 35 Ribu Raup Omzet Rp 50 Juta Per Bulan

 
MALANG – Sony Arida menjadi salah satu bukti keseriusan STMIK – STIE Asia Malang dalam menumbuhkan bisnis startup bagi mahasiswa. Memulai usaha di tahun 2012 saat masih menjadi mahasiswa, kini lulusan Teknik Informatika jurusan Desain Grafis 2015 ini memiliki penghasilan lebih dari Rp 50 juta tiap bulan.
Langkah awalnya dimulai dengan menjaul jasa CEOI website, yang kini berkembang menjadi produksi kerajinan fashion sepatu border, souvenir, cincau hitam, serta merambah ke bisnis pariwisata. Semua usahanya dipasarkan melalui teknologi internet.
“Dulu pernah punya toko offline, tapi ternyata yang cepat berjalan melalui pemasaran online. Semuanya saya pasarkan melalui instagram. Sekarang sudah ada omzet Rp 50 juta sebulan, tapi saya dulu memulainya cuman dengan modal Rp. 35 ribu saja.” ujarnya.
Dalam satu bulan, produk sepatu bordir usahanya bisa terjual hingga 300 pasang, sementara produk cincau hitam laku hingga 200 kilogram. Melalui internet, Sony bisa menembus pasar hingga ke Timika, Singapura, Malaysia hingga Amerika Serikat. 
Sony mengatakan, dalam memilih bisnis start up, seseornag dapat memilih satu saja dari empat modal yang dimiliki, diantaranya tenaga, otak, waktu atau uang. Namun, pemasaran menjadi hal yang dirasa paling sulit. Untuk itu, Sony menyarakan kepada pebisnis pemula untuk memulai pemasaran melalui offline.
“Belajar menawarkan ke orang terlebih dulu, trus melihat barang-barang dan harga yang ada di pasar. Dulu setiap kali setelah saya dapat barang dari pasar, selalu saya bawa ke kampus,” pungkasnya.
Wirausaha digital telah menjadi satu dari sekian target pemerintah era sekarang. Seperti yang disampaikan oleh pendiri Futurepreneur.id, James Tomassouw kemarin (23/11) dalam Roadshow Technopreneur 2017 di STMIK STIE Asie, Presiden Jokowi menargetkan muncul seribu startup baru setiap tahun. 
“Presiden melihat Gojek dan Tokopedia sebagai acuan. Dan Malang ini punya potensi besar karena punya banyak perguruan tinggi dengan prodi IT. Namun kendalanya masih ada pada kemauan mahasiswa,” ujarnya.
Menurutnya, ide memulai bisnis startup bisa dimulai dari mana saja asalkan bisa dituangkan dan diterima pasar. Dia mengukur, produk bisa berhasil bila dapat mendunia. Contohnya, binis gojek yang bersifat massif.
“Jangan membuat usaha menunggu lulus, tapi lulus harus punya investasi. Kalau menunggu modal tentu saja lama,” tandasnya.
Wirausaha digital muda telah menjadi perhatian bagi STMIK STIE Asia melalui penerapan kurikulum Business Practice di semester pertama hingga semester empat pada semua jurusan, dengan total 12 SKS.
“Materinya didekatkan pada dunia kerja  dan benar-benar baru. Contohnya materi Business Model Generation, yakni persiapan semua konsep pendirian usaha dari awal hingga promosi. Juga ada pula Design Thinking untuk penyempurnaan perusahaan melalui hasil interaksi dengan customer,” ujar Ketua STMIK STIE ASIA, Ir Teguh Widodo MM.
Sekarang ini telah bermunculan lebih dari 100 bisnis startup yang digagas oleh mahasiswa. Mereka pun juga diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas teknologi yang ada di kampus untuk pengelolaan bisnis mereka. (ras/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :