Banyak Guru Emoh di Tempatkan di Daerah Terpencil

 
MALANG –  Pemerataan guru masih menjadi salah satu permasalahan pendidikan di negeri ini. Masih banyak guru yang tidak mau ditempatkan untuk mengabdi di daerah terdepan, tertinggal dan terluar (3T) Indonesia.
“Dari 230 ribu yang lulus hasil uji kompetensi guru, hanya 30 persen yang mau ditempatkan di daerah 3T,” ujar Direktorat Jenderal Pembelajaran dan kemahasisiwaan Kemeristekdikti RI, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani dalam Seminar Nasional Lembaga Pengembangan Pendidikan, dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang dengan tema “Menjawab Tantangan Guru Masa Depan Indonesia”, Kamis (23/11). 
Padahal, lanjutnya, siswa di daerah 3T memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap gurunya.  Bila dulunya tes penerimaan Program Profesi Guru (PPG) hanya dilakukan melalui ujian tertulis, kini ditambahi dengan ujian tes bakat minat. Ini dilakukan untuk mendapatkan guru yang benar-benar memiliki dedikasi dalam dunia pendidikan. Calon mahasiswa PPG pun harus memiliki IPK minimal 3.00.
“Dari pendaftar yang berjumlah 22 ribu, hanya 3341 saja yang diterima. Kualifikasinya sangat tinggi. Dan dari tes bakat dan minat itu, sebanyak 30 persen peserta dinyatakan gugur,” lanjutnya.
Paristiyanti melanjutkan, guru menjadi salah satu fokus penting dalam pemerintahan saat ini. Hal ini dibuktikan dengan alokasi dana hingga 80 persen bagi calon guru di Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) dan PPG. 
“Tahun depan akan kami siapkan dana PPG bersubsidi untuk 30 ribu orang guru, sedangkan tahun ini hanya tujuh ribu saja. Sepuluh ribu untuk PPG pra jabatan dan 20 ribu untuk PPG dalam jabatan,” sambungnya.
Revitalisasi LPTK juga menjadi agenda besar pemerintah dalam menghasilkan guru berkualitas, yang dimulai sejak tahun 2015 lalu. Tahun ini, jumlah LPTK yang direvitalisasi mencapai 45 LPTK, dan tahun depan meningkat menjadi 75.
Selain LPTK yang masih belum tersandart, permasalahan lainnya yaitu kurang linearnya latar belakang pendidikan dengan tugas guru, serta masih banyak guru yang belum menyandar gelar S1.
“Jumlahnya ada 700 ribu orang di bawah naungan Kemendikbud dan 230 ribu orang di bawah naungan Kemenag,” pungkasnya. 
Menghadapi tantangan masa depan, guru memang dituntut untuk terus berkembang. Kemajuan teknologi mengantarkan banyak alat digital yang dapat menggantikan peran guru dengan waktu yang cepat dan tepat. Oleh karena itu, dibutuhkan guru yang dapat berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman.
“Yang harus bisa menjawab tantangan ini yaitu guru, pabrik guru, dan Kemenristekdikit dalam hal ini ditjen Belmawa. Dan ini sangat menantang bagi UM, mengingat saat ini UM dimandati oleh Kemenristekdikti untuk menjadi pusat inovasi belajar,” tambah Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. AH. Rofi'uddin, M.Pd. (ras/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :