Siswa Buat Produk Kesehatan Bahan Alam


MALANG –  Jurusan Farmasi SMK Prajnaparamitha telah menelurkan beragam produk kesehatan. Istimewanya lagi, produk yang dibuat sendiri oleh siswa itu berbahan alam. Misalnya kopi petualang dari biji kedawung dan lamtoro, zalaka care dari salak, cream kaki pecah-pecah trionas dari bonggol nanas. Baru-baru ini, yang telah dibuat adalah bali stick. Bali stick, adalah produk balsem berbentuk stick dengan 6 varian, yakni Roseberry, Cengkeh Pappermint, Avocado (tanpa aromatherapy), Lavender, Rosender.
“Untuk kali pertama produk ini diproduksi hingga 240 buah stick,” ujar Mughis Fathoni, ketua Program Studi Farmasi.
Mughis mengungkapkan, untuk bisa menghasilkan produk tersebut, ada wadah yang dibentuknya. Komunitas bernama Kanfas ( Kreatifitas Anak Farmasi) sengaja didirikan untuk menampung ide kreatif siswa.
“Mengajak siswa memang agak susah. Saya mencoba memberikan pengertian dan pelajaran kepada mereka, jika mencari lapangan pekerjaan semakin sulit dan persaingan semakin bebas, saya meminta kepada siswa untuk berupaya menumbuhkan soft skill mereka. Selain kemampuan intelektual mereka tentunya,” terangnya.
Ia sengaja mendirikan komunitas ini selain melatih siswa untuk berorganisasi, juga sebagai wadah bagi siswa untuk menuangkan ide serta kreativitas mereka untuk menghasilkan suatu produk. Mughis mengatakan, walaupun sebelumnya sudah ada program kewirausahaan siswa, yang dikhususkan untuk melatih siswa membuat produk sendiri, namun Mughis mengharapkan, dengan adanya Kanfas, siswa bukan hanya sekadar belajar berwirausaha, tapi juga belajar untuk berorganisasi melatih soft skill mereka.
“Sebab saya pikir, kalau mereka hanya belajar membuat produk saja itu sudah ada di program sekolah. Tapi kalau untuk berorganisasi, memimpin usaha itu tidak bisa mereka dapatkan, karena program kewirausahaan sekolah hanya melatih mereka untuk berpikir kreatif dan membuat produk saja,” kata Mughis kepada Malang Post.
Sejak awal komunitas ini didirikan, siswa memang masih belum berminat untuk mengikuti komunitas ini. Masih sangat jarang ada siswa yang meluangkan waktunya di hari Sabtu untuk mengikuti program komunitas ini. Lama-kemalaan, setelah hampir satu tahun, siswanya yang hadir pun cukup banyak. Komunitas ini, bisa berfungsi sesuai misi yang ia bangun. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...