Kuatkan Karakter dengan Prestasi dan Literasi

 
MALANG - SMA Negeri 1 Lawang menunjukkan kelasnya sebagai sekolah unggul di Kabupaten Malang. Sederet prestasi membanggakan berhasil diraih para siswanya, baik di bidang akademik maupun non akademik. Seperti yang telah dicapai Sherinkeshia Usagi Arneta Syahnia dan Idi Pangesti.  Dua siswi SMA Negeri 1 Lawang ini, berhasil lolos ke tingkat nasional dalam sebuah Olimpiade Bahasa Jerman pada ajang Nationale Deutscholympiad Vorrunde di Universitas Negeri Malang beberapa waktu lalu.
Keduanya akan berkompetisi di tingkat nasional pada Bulan Januari tahun 2018 mendatang di Jakarta. Jika berhasil menjadi tiga besar, mereka akan Go Internasional ke Jerman.
“Menjadi enam besar saja sudah bisa ke Jerman. Tapi yang berhak kompetisi di tingkat internasional hanya tiga besar,” ujar Sherin saat ditemui Malang Post.
Sementara Idi menambahkan, Ia dan Sherin tengah bersiap-siap untuk menjalani kompetisi tingkat nasional. Salah satunya dengan meningkatkan intensitas belajar dan lebih sering berlatih.
“Mudah-mudahan kami berdua sama-sama lolos ke tiga besar untuk bisa melaju ke internasional,” harapnya.       
Sebelum mereka bedua, dua tahun sebelumnya siswa SMANELA juga ada yang ke Jerman saat mengikuti kompetisi yang sama. Tahun ini Sherin dan Idi akan mengikuti jejak kakak kelas mereka jika berhasil menjawab tantangan dalam kompetisi Nationale Deutscholympiad Vorrunde di Jakarta.  
Seperti kompetisi bahasa pada umumnya, mereka berdua dituntut untuk menguasai minimal empat aspek yang menjadi penilaian. Dalam bahasa Jerman disebut horuerstehen (listening), leseverstehen (reading), mundlich Ausdruck (speaking) dan schriftlich ausdruck (writing).   
Selain di bidang bahasa, tahun 2017 ini siswa SMA Negeri 1 Lawang juga banyak juara di OSN Kabupaten Malang. Mereka adalah Gandhi Surya Buana Juara 3 matematika, Icha Biassari juara 1 Fisika, Yusuf Kostya juara 1 TIK, Yudistira juara 1 Biologi, Nur Azizah juara 2 Ekonomi, Muhammad Azril juara 3 Kebumian dan Ahmad Miftahul Huda juara 3 Geografi.
Waka Kesiswaan SMAN 1 Lawang Mohamad Juzki Arif mengatakan, pembinaan siswa olimpiade dimulai sejak awal semester ganjil. Diawali dengan proses seleksi seluruh siswa untuk menentukan 20 siswa yang layak masuk kelas khusus olimpiade.
“Karena peminatnya banyak, maka kami seleksi. Masing-masing mata pelajaran 20 siswa,” ucap Juzki.
Kegiatan pembinaan sendiri dilakukan dua kali dalam seminggu secara berkala. Menjelang pelaksanaan olimpiade, siswa terpilih kembali diseleksi untuk mengikuti OSN tingkat kabupaten.
Seleksi tidak hanya di bidang penguasaan materi, tapi juga mental. Sehingga segala sisi siswa menjadi siap dalam menghadapi kompetisi.
“Kelas olimpiade sangat besar manfaatnya. Selain disiapkan untuk lomba, siswa juga dapat memperkuat pemahaman materi pelajaran,” terangnya.
Adapun prestasi di bidang non akademik, juga tidak kalah banyak. Antara lain juara 1 lomba balap sepeda tingkat internasional, fotografi tingkat nasional, kejurnas pencak silat, kejurnas selam, lomba tari kreasi, lomba duta kesehatan, lomba LKBB, lomba pramuka, kejurnas karate piala gubernur dan lain sebagainya.   
Juzki menjelaskan, pembinaan potensi siswa di bidang non akademik lebih mengandalkan pembinaan melalui program ekskul. Seperti fotografi, jurnalistik, tari kreasi dan sebagainya.
“Dan yang terpenting adalah motivasi. Sebab anak-anak sulit mencapai prestasi tanpa adanya motivasi. Selanjutnya mereka diberikan kesempatan untuk menyusul pelajaran yang sempat tertinggal saat berlomba,” tambahnya.
Kepala SMAN 1 Lawang Drs. H. Supaat, M.Si mengatakan, tahun ini peserta didiknya sangat produktif dalam berprestasi. Pasalnya, menurut  mantan Kepala SMAN 1 Pagak ini, siswa yang memiliki potensi di bidang olahraga, kesenian ataupun akademik, diberikan fasilitas yang memadai.
“Bagaimana pun sarana itu penting untuk menunjang suksesnya sebuah pendidikan, termasuk pengembangan bakat dan potensi siswa,” ucapnya.
Pria asal Lamongan ini menambahkan, melalui kompetisi pihaknya dapat memberikan pengalaman kepada siswa. Semakin sering berkompetisi, pengalaman siswa semakin bertambah.
“Kami tidak menargetkan anak-anak harus juara satu. Yang penting kemampuan mereka dapat tersalurkan dan mereka bisa tampil yang terbaik. Itu yang terpenting,” imbuhnya. 
Aktifnya siswa SMANELA berkompetisi di berbagai ajang, telah memberikan imbas positif terhadap branding lembaga. 
“Dengan branding yang kuat diharapkan citra sekolah ini juga semakin positif,” lanjutnya.
Yang tak terlupakan di tengah prestasi siswa yang membanggakan adalah penanaman nilai-nilai karakter. Supaat menjelaskan, di lingkungan SMAN  1 Lawang nilai karakter dikuatkan dengan budaya religi dan literasi. Antara lain melalui program pengembangan bakat bidang keislaman. Seperti mengaji dan kelompok salawat.
“Semuanya kita wadahi. Dan tidak hanya siswa yang beraga Islam. Yang non muslim juga kami bina dengan guru agama masing-masing,” jelasnya. 
Sementara melalui literasi siswa dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Di antaranya tentang kedisipilinan, gotong royong dan bertanggungjawab.
“Inti pendidikan karakter itu membudayakan. Bagaimana siswa agar memiliki budaya membaca, menulis dan memiliki kedisiplinan,” terangnya. 
Dari budaya membaca dan menulis tersebut, lanjut Supaat, siswa menjadi terbiasa berfikir dan mengemukakan ide mereka.
“Ide-ide siswa ini di antaranya dituangkan dalam buku yang sampai saat ini sudah ada lima karya buku yang mereka hasilkan,” pungkasnya.(imm/adv/lim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :