Bangun Museum Pisang, Sekolah Tanam 25 Varian Buah Pisang


MALANG - BUAH pisang memang bukan buah yang langka, semua orang sangat mengenal baik jenis buah ini. Tapi, tidak semua orang pernah melihat varian pisang secara lengkap. Di SMPN 23, ada museum pisang yang ditanami berbagai jenis varian. Saat ini, masih ada 13 jenis pisang. Nantinya, ia mengharapkan, ada 25 jenis yang ditanam di sana.
Lahan seluas 2 hektar di belakang SMPN 23 disulap oleh Slamet Udadi, sang Kepala Sekolah menjadi museum. Museum tempat menyimpan pisang. Museum ini tidak terletak di dalam ruangan, tidak pula berpintu dan bertembok. Museum ini hanya berpagar. 30 pohon pisang berjajar rapi, mengelilingi kolam ikan di tengah. Museum ini menjadi salah satu ikon SMPN 23 meraih Adiwiyata tingkat Provinsi. Saat ini, museum ini sudah mempunyai 13 jenis pisang.
Sejak 2016, lahan kosong yang tadinya gersang mulai ditanami oleh Slamet.  Ia sama sekali tidak mempunyai ide untuk membuat sebuah museum tumbuhan. Niatnya hanya ingin memberdayakan dan memnfaatkan lahan kosong di belakang sekolah saja, agar tidak disalahgunakan oleh siswanya, dan juga digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.
Slamet prihatin, dengan lahan kosong yang cukup luas itu hanya digunakan sebagai tempat membuang sampah, bermain dan berkeliaran siswanya saja. Karena lokasi cukup strategis, yakni dekat dengan kantin, siswanya lebih senang bermain di situ.
“Kalau lahan ini hanya sebagai tempat bermain saja saya rasa kok kurang tepat. Ada kolam lele di tengah, terlihat kurang terawat jika hanya dikelilingi rerumputan yang gersang,” terang Slamet.
Slamet kemudian mencoba menginisiasi menanam pohon.  “Hanya sebatas menanami pohon saja, tidak sampai membudidayakan atau bahkan menyimpan pohonnya,” kata Slamet.
Awalnya, ia menanam pohon sirsak beberapa batang, tapi ternyata selang beberapa bulan, tumbuhan ini tidak bisa tumbuh subur. “Sempat putus asa, ingin membudidayakan tanaman, tapi ternyata, sirsak tidak bisa tumbuh,” terang Slamet. Ia kemudian menanam pohon ketela. Beberapa batang pohon ketela ditanam namun, ketela juga tidak bisa tumbuh di sini.
Dari dua kegagalan tersebut, Slamet akhirnya mencoba mencari pohon pisang. Ia terbersit menanam pohon pisang, sebab menurutnya tanaman ini bisa hidup di tempat yang gersang. Pisang adalah buah yang mempunyai banyak jenis, jadi siswa bisa menggunakan pisang sebagai media belajar. Karena mempunyai ide membuat pisang sebagai media belajar, ia pun terlintas untuk membuat museum pisang di lahan gersang itu.
“Zaman sekarang belajar bisa melalui apa saja, melalui pisang saya ajarkan siswa untuk selain mengenal juga mengolah hasil-hasil pisang. Nanti siswa akan saya ajarkan itu. Kami akan mengajarkan bagaimana siswa mengelola pisang dan berwirausaha,” paparnya.
Karena museum, lanjut dia, pisang-pisang yang ditanam adalah pisang yang didapatkan dari orang tua, ataupun dari masyarakat. “Asalkan mereka mempercayakannya kepada kami, setiap  pohon pisang, juga disertai dengan tulisan dan keterangan. Mulai nama, jenis, manfaat, usia, hingga lama bertahan hidup,” kata Slamet.
Jika memungkinkan, tambah dia, nantinya akan dibuat versi digitalnya. Tumbuhan tetap dibuat outdoor, namun keterangan dan media pembelajaran bisa dilakukan digital.
“Untuk pembelajaran kami bisa kembangkan nanti secara digital. Mereka bisa belajar juga secara online. Tapi, tetap ada produk pisangnya,” kata dia.
Museum pisang ini tetap dijadikan sebgai salah satu ikon untuk maju ke ajang Adiwiyata Nasional.
“Harapannya nanti, kami bisa meraih Adiwiyata Nasional, tentu saja museum pisang juga menjadi salah satu andalan kami nanti,” pungkasnya. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :