Temulawak Bisa Terkenal Seperti Ginseng Korea

MALANG – Komoditas temulawak yang merupakan tanaman rimpang asli Indonesia nyatanya masih belum mejadi ikon, layaknya Jepang dengan jamur Shitake, dan Korea dengan komoditas ginsengnya. Kendalanya yakni pada rendahnya kualitas dan kuantitas. Meski telah cukup lama bersinggungan dengan temulawak, banyak masyarakat yang tidak menyadari banyaknya hasil olahan yang bisa didapatkan.
“Selain untuk jamu, temulawak juga bisa untuk produk kecantikan seperti halnya sabun. Selain itu, temulawak memiliki senyawa kurkumin yang sudah terkenal sebagai penambah nafsu makan, anti peradangan, dan antioksidan alami,” ungkap Prof. Dr. Ir. Ellis Nihayati.
Temulawak sendiri sebenarnya telah mengakar dalam budaya dan keseharian masyarakat Indonesia sejak dulu. Terbukti dari lagu anak-anak berjudul ‘Kodok Ngorek’, dimana terdapat lirik temulawak sebagai jamu yang pahit bagi anak-anak.
“Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar seorang anak  menyanyikan lagu ini, tapi kemduian saya berfikir apakah mereka benar-benar tahu tentang temulawak ini,”.
Adanya lagu tersebut, lanjutnya, menunjukkan keberadaan temulawak yang dipercaya dapat sebagai jamu penambah nafsu makan untuk anak-anak. Sejak tahun 2013, Ellis hanya berfokus untuk memperkaya penelitian senyawa kurkumin, yang selain ada di dalam temulawak juga ditemukan pada kunir maupun jahe.  Sedangkan temulawak sendiri mengandung senyawa santorisol, yang berperan untuk meningkatkan nafsu makan dan antioksidan.
“Selain untuk jamu dan obat sakit perut, temulawak bisa diolah sebagai minuman segar tapi kaya khasiat,” ungkapnya,
Per tahunnya, kebutuhan temulawak dapat mencapai 42 ribu ton, sementara data dari Kementerian Pertanian menyebutkan hingga tahun 2015 masih tercukupi hingga 26 ribu ton saja. Ini disebabkan karena kurangnya minat petani untuk menanam temulawak. Temulawak baru dapat berumbi di umur sembilan hingga 12 bulan, dan memiliki jarak tanam yang lebar sehingga dinilai kurang menguntungkan.
Dalam penelitiannya yang berjudul Menuai Kurkumin melalui Rekayasa Teknologi Budidaya Temulawak, Ellis menyebutkan sistem tumpangsari dengan tanaman kedelai yang bisa menfiksasi nutrisi untuk asupan ke temulawak. Kedelai dinilai paling baik diantara tanaman jagung dan ubi jalar yang telah diujikan.
Selain itu, untuk mengubah pola pikir masyarakat demi peningkatan komoditas temulawak, dihadirkan hilirisasi inovasi melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
“Misalnya dengan pembuatan yogurt kurkuma, eversence kurkuma, dan minuman segar lainnya yang diprakarsai oleh tim Temulawak UB. Temulawak dengan takaran 2.5 gram per kilogram berat badan,” ujar guru besar yang dikukuhkan pada hari ini, tersebut.
Selain Prof. Dr. Ir. Ellis Nihayati, M.S, hari ini Prof. Dr. Ruslan Wirosoedarmo, M.S juga akan menambah jumlah guru besar Universitas Brawijaya. Dalam orasinya, Ruslan akan menyampaikan penelitian terkait dengan potensi kesesuaian lahan untuk pertuimbuhan tanamana kedelai.
Dengan kebutuhan mencapai dua juta ton kedelai, saat ini produksi dalam negeri hanya mampu mencukupi di angka 0.9 ton saja. Sisanya, kedelai diimpor dari Amerika Serikat. Selama ini, petani masih hanya menanam kedelai di lahan yang telah ditanami kedelai sejak dulu. Padahal, potensi lahan lain yang cocok masih sangat tinggi.
“Kemudian saya petakan lahan di Malang dan Kediri berdasarkan kesesuaian pH tanah, struktur, tekstur, dan juga iklim, dan terdapat beberapa kategori yakni sangat sesuai, cukup sesuai, dan tidak sesuai,” terang guru besar bidang ilmu teknik tanah air tersebut.
Dengan pemetaan tersebut, diharapkan petani dapat mengetahui kesesuaian tanah untuk kedelai sehingga petani di sejumlah lahan kecil bisa bersatu, menghasilkan kedelai dalam jumlah besar. Yang tak kalah penting yakni adanya perusahaan yang dapat membantu pengelolaan kedelai sehingga penjualan kedelai tidak lagi menemui kendala. (ras/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :