Lifeskill Kewirausahaan, Ekskul Baru SMPN 15 Malang


MALANG - SMPN 15 Malang kini memiliki cendera mata khas produksi siswa. Yakni topeng Malangan. Cindera mata ini berbeda dari yang biasa dibuat pengrajin. Bahannya tidak terbuat dari kayu, melainkan dari daur ulang kertas koran.
Kebanyakan Topeng Malangan terbuat dari bahan dasar kayu. Namun, di tangan siswa SMPN 15 Malang, Ikon budaya Kota Malang itu bisa dibuat dari bahan dasar kertas koran. Penggagas dari pembuatan topeng malangan berbahan dasar kertas koran adalah Agus Wahyudi, kepala SMPN 15. Topeng hasil karya siswa ini, juga akan dibuat produk untuk dikomersilkan. Hingga akhirnya, ia pun menjadikan kreasi topeng malangan ini sebagai ekstrakurikuler, yang diberi nama lifeskill kewirausahaan.
Karena mencintai budaya Malang, Agus mengajak siswanya untuk membuat kreasi ikon Kota Malang dari hasil kreativitas dengan memanfaatkan limbah koran bekas. Sejak awal menjabat pada November 2016, Agus awalnya membuat riset, potensi yang dipunyai sekolah untuk melestarikan budaya tersebut. Sebab, ia berpendapat, sebagai kepala sekolah harus mempunyai inovasi di sekolah yang ia pimpin.
“Awal saya berfikir, menemukan inovasi untuk sekolah ini. Saya dari dulu memang ingin membuat topeng Malang, tapi dengan bahan sederhana yang bisa dibuat oleh semua siswa tanpa harus ahli,” kata Agus kepada Malang Post.
Akhirnya, sebelum ide ini menjadi ekskul, siswa diajarkan dan diperkenalkan terlebih dahulu kegiatan membuat topeng dari kertas koran ini pada pelajaran seni rupa dan prakarya. Harapannya, ia bisa mengenalkan kepada siswa terlebih dahulu, sebelum akhirnya menggugah minat siswa untuk mengikuti ekskul ini.
“Saya meminta guru seni rupa untuk memperkenalkan dan menyelipkan kegiatan ini di pelajaran sekolah. Harapannya mereka tahu dan mengenal, sehingga nanti, ketika ekskul ini dibuat, minat siswa bisa terjaring. Mereka yang betul-betul berminat diajarkan, kemudian mengajarkan balik ke teman-teman, jadi menjadi tutor sebaya nanti,” bebernya.
Sebelum menggunakan kertas koran sebagai bahan dasar, ia menggunakan kertas biasa. Namun karena menggunakan kertas biasa belum menghasilkan bentuk maksimal, ia mencoba membuat dengan kertas koran.  Trial and error ini juga dilalui siswa, mereka pun diberi kesempatan untuk menilai hasil awal.
Bentuk yang dihasilkan, wajah topeng masih terlihat kasar, tidak rata, dan menurutnya detail tidak terlihat. Mata, dan hidung bentuknya tidak sesuai ekspektasi. Akhirnya, tercetus menggunakan kertas koran, dan hasilnya, detail bentuk lebih sempurna.
“Awalnya saya meminta siswa mengumpulkan kertas apapun, semua kertas dilebur dan dijadikan bubur. Kami punya empat cetakan topeng. Setelah terkumpul, kami meminta siswa untuk praktik di masing-masing kelas dengan alat. Ini di luar ekstrakulikuler, ketika di pelajaran seni rupa,” cerita dia.
Setelah dicobakan kepada siswa beberapa kali, akhirnya, Agus membuatnya menjadi ekskul. Pada ekskul lifeskill kewirausahaan, siswa tidak hanya diajarkan untuk membuat topeng saja, namun juga memasarkan topeng Malangan dari kertas  koran tersebut. Yang menjadi pembimbing bukan hanya guru Seni Rupa saja, namun juga guru ekonomi.
“Guru ekonomi di sini mengajarkan mereka untuk berbisnis memasarkan produk topeng ini. Nantinya topeng akan dikemas sebagai cindera mata. Memang kami sedang menghitung kalkulasinya, belum menetapkan harga. Tapi yang pasti, akan kami jadikan ini produk khas dari SMPN 15,” ungkap Agus.
Topeng Malangan yang sudah berhasil dibuat saat ini ada 24 buah. Beberapa topeng juga sudah diberikan untuk cindera mata tamu yang berkunjung ke sekolah yang berlokasi di kawasan bukit dieng ini.
“Pada awal November kemarin, juga sudah kami berikan beberapa kepada kunjungan Pemkab Tapin Kalimantan Selatan sebagai cindera mata,” pungkasnya. (sinta/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :